Bumi Tak Lagi Punya Aset Operasi

Rabu, 17 Mei 2006 | 17:13 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta:Rapat umum pemegang saham luar biasa PT Bumi Resources Tbk., kemarin, menyetujui penjualan tiga anak perusahaan, yakni PT Kaltim Prima Coal, Arutmin Indonesia, dan Indocoal Resources (Cayman) Ltd. Dengan demikian Bumi tidak mempunyai aset perusahaan yang beroperasi.

Pada Maret lalu, Bumi menjual 95 persen kepemilikan sahamnya di PT Kaltim Prima Coal, 100 persen saham di Arutmin Indonesia, dan 100 persen saham di Indocoal Resources Limited. Total transaksi penjualan saham perusahaan batubara itu US$ 3,25 miliar. Pembelinya adalah PT Borneo Lumbung Energi yang berafiliasi dengan PT Renaissance Capital.

Rapat umum pemegang saham luar biasa itu juga tidak membahas rencana Bumi merger dengan PT Energi Mega Persada Tbk.

Direktur Utama Bumi Ari Hudaya mengelak Bumi dikatakan sebagai perusahaan portofolio belaka. "Kami masih punya aset di Palu, Gorontalo, dan Mauritania," kata Ari kepada Tempo, “Tapi aset-aset itu memang baru pada tahap praoperasi. “

Ari mengakui pendapatan tahun ini tidak akan signifikan setelah penjualan aset-aset beroperasi tersebut. Namun dengan dana sebesar US$ 3,25 miliar, Bumi bisa langsung memulai proyeknya di Pendopo, Sumatera Selatan. "Sekarang tahap persiapan drilling order," ujar Ari. Proyek batu bara cair itu ditargetkan beroperasi empat tahun lagi.

Dimintai komentar, analis PT Kuo Kapital Raharja Edwin Sinaga berpendapat, setelah penjualan aset-aset itu, Bumi akan menjadi perusahaan 'kosong' dengan jumlah uang yang besar. "Sisi negatifnya, mereka tidak punya aset beroperasi atau operating asset lagi," kata Edwin kepada Tempo. Namun, dia menduga Bumi akan mencari aset operasi lain.

Karena itu, lanjut dia, rencana merger Bumi dengan PT Energi Mega Persada Tbk. akan membuat perusahaan baru hasil merger memiliki aset. Apalagi bidang pertambangan mempunyai tingkat permintaan yang baik di pasar.

Analis PT Trimegah Securities Sebastian Tobing menambahkan, merger Bumi dengan Energi harus dilakukan secepatnya. "Agar dalam 1 - 2 tahun mendatang ada pendapatan." PT Energi, kata Sebastian, memiliki aset lapangan minyak di Amman, Yordania, yang dalam dua tahun akan segera berproduksi. Sementara, proyek konversi batu bara ke energi cair milik Bumi di Sumatera Selatan paling cepat berproduksi 3-4 tahun mendatang.

Pemegang saham kemarin juga menyetujui rencana Bumi membeli kembali atau buyback 10 persen dari seluruh 19,4 miliar saham yang beredar. Harga maksimal yang disetujui Rp 1.200 per lembar. Pemegang saham juga menyetujui pembagian dividen final 2005 Rp 15 per lembar saham. Pada tahun lalu Bumi membukukan laba bersih Rp 1,22 triliun. Perseroan juga berencana membagikan dividen interim 2006 Rp 190 per lembar saham. Ibnu RUSYDI






Komentar Anda

Kirim