Indonesia Butuh Perubahan Dasar Ekonomi
Minggu, 18 Juni 2006 | 22:51 WIB
TEMPO Interaktif, Manado:Presiden Susilo Bambang Yudhoyono memandang Indonesia harus meletakkan kembali dasar ekonominya yang kokoh. Indonesia butuh kebijakan ekonomi yang tidak hanya bertumpu pada teori ekonomi makro konvensional, tapi juga non konvensional.
Menurut Yudhoyono, pengalaman di banyak negara berkembang, triple down effect sebagaimana diajarkan teori ekonomi, bahwa pertumbuhan ekonomi akan meningkatkan kesempatan kerja dan mengurangi kemiskinan, ternyata tidak terjadi. "Perlu ada program khusus, katakanlah itu, new deal, agar Indonesia segera lepas dari krisis," ujarnya dalam sambutan kongres Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia di Manado, 18/6 malam.
Krisis ekonomi 1997 - 2000, kata presiden, dampaknya masih terasa hingga kini, dan bebannya ditanggung rakyat kecil. Yudhoyono menyarankan, strategi ekonomi non-konvensional haruslah strategi yang pro-growth (ekspor dan investasi), pro-job (sektor riil) dan pro-poor (revitalisasi ekonomi pedesaan).
"Pembangunan tidak bisa hanya menggantungkan pada ekonomi pasar. Tetapi harus diimbangi pengurangan kemiskinan dan penciptaan lapangan kerja, termasuk peningkatan pendidikan dan kesehatan," kata Yudhoyono.
Dia mengatakan, kalau ekonomi Indonesia hanya menggantungkan pada iklim investasi, maka perlu waktu lama untuk bangkit kembali. Strategi non-konvensional baru sangatlah dibutuhkan, sebab, "The hungry cannot wait," kata presiden.
AGUS SUPRIYANTO





