Revitasilasi Pertanian Terganjal Beban Berat Perekonomian
Selasa, 20 Juni 2006 | 10:22 WIB
TEMPO Interaktif, Manado:Ekonom Pertanian Bungaran Saragih mengatakan program revitalisasi sektor pertanian terlalu berat menanggung beban perekonomian bangsa Indonesia. Namun, sektor ini terlihat mandek karena tidak adanya perhatian yang secara sungguh-sungguh ingin merevitalisasi sektor pertanian.
Bungaran menyatakan sektor pertanian Indonesia sebenarnya tidak bisa dikatakan tertinggal oleh sektor lain. Meskipun relatif tertinggal sedikit oleh Malaysia maupun Amerika Serikat, tetapi jika dibandingkan Thailand dan Vietnam, Indonesia jauh lebih baik. India dan Cina pada tahun 1960 hingga 1970-an pernah mengalami kelaparan yang sangat parah, tetapi di Indonesia hal itu tidak pernah terjadi.
Di Indonesia, kata dia, terbukti tidak ada sektor lain seperti sektor jasa maupun sektor industri yang lebih
kuat dan tumbuh sebesar sektor pertanian. "Yang menyebut pertanian Indonesia lemah hanya persepsi," kata Bungaran dalam forum pleno Kongres Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia di Manado, hari ini.
Persepsi pertanian tidak tumbuh karena orang menghitungnya berdasarkan pendapatan per kapita petani. Petani tetap saja miskin dan gurem meskipun sudah memberi sumbangan yang besar terhadap perekonomian.
Padahal, kalau dilihat lebih jernih secara agregat, pertanian terus tumbuh sekitar 4 persen per tahun. Tapi secara per kapita tidak cukup karena sektor industri dari hulu-hilir dan jasa pendukung tidak siap. Juga sektor perbankan tidak memiliki cukup keberpihakan karena lebih tertarik pada industri besar maupun pertanian dalam skala besar, yang bukan petani Indonesia.
Agus Supriyanto





