Pemerintah Yakin Ekonomi Bisa Tumbuh 5,9 Persen

Senin, 31 Juli 2006 | 23:37 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta:Pemerintah berkeyakinan pada semester kedua tahun ini laju pertumbuhan ekonomi mengalami percepatan hingga bisa mencapai 7 persen. Dengan demikian, kata Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati, target pertumbuhan 5,9 persen tahun ini bisa terpenuhi.

"Kami berharap pertumbuhan 2006 bisa mendekati 6 persen. Target kami 5,9 persen," kata Menteri Keuangan Sri Mulyani dalam pidato pembukaan Indonesia Forum Investor di Jakarta hari ini.

Dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Perubahan 2006, pemerintah mempertahankan tingkat pertumbuhan ekonomi 5,9 persen, meskipun, kata Sri Mulyani, Dewan Perwakilan Rakyat meragukan pencapaian target tersebut. "Dewan meminta pemerintah merevisi target pertumbuhan lebih rendah dari 5,9 persen," ujar dia.

"Tapi, kalau melihat trennya, (prospeknya) tidak terlalu buruk. Pada 2004 tumbuh 4,9 persen, lalu naik 5,6 persen pada 2005, dan bisa 5,9 persen tahun ini," papar dia lebih lanjut.

Sri Mulyani mengatakan optimisme pemerintah itu didukung oleh sejumlah data empiris yang positif, misalnya persepsi bisnis cenderung membaik. Indeks keyakinan konsumen yang sempat drop di awal tahun pun sudah menunjukkan pemulihan. Demikian pula daya beli masyarakat, yang telah menunjukkan peningkatan.

Dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional, pemerintah mentargetkan setiap pertumbuhan satu persen akan tercipta 400-500 ribu lapangan kerja baru. Tujuannya, agar pada 2009 angka pengangguran bisa diturunkan ke level 5,1 persen dari level saat ini 10,5 persen. Namun kenyataannya, selama 2002-2005, pertumbuhan ekonomi satu persen hanya mampu menciptakan 180-250 ribu lapangan kerja baru.

Asosiasi Pengusaha Indonesia Sofjan Wanandi, kebijakan ekonomi yang dikeluarkan pada semester pertama lalu bersifat kontraproduktif sehingga tidak mendorong pergerakan sektor riil.

"Kenyataannya kan pasar tidak bergerak," kata Sofjan kepada Tempo. "Likuiditas pasar berkurang akibat uang ditarik pemerintah melalui penjualan obligasi retail."

Sofyan memperkirakan pada semester kedua ekonomi hanya tumbuh di bawah 5 persen. Pengusaha pun dalam kondisi bertahan tanpa bisa meraih keuntungan.

Sofjan membantah data empiris yang dikemukakan Sri Mulyani. Pasalnya, menurut dia, daya beli nasional masih rendah. Penurunan daya beli itu terlihat di sektor elektronik dan otomotif.

Kinerja perdagangan internasional pun masih mengalami defisit akibat tingginya beban bea masuk dan transportasi. "Saya berharap, pemerintah merealisasi kucuran anggaran untuk mendorong sektor riil," ucapnya.

Optimisme pertumbuhan sektor riil justru diperlihatkan kalangan pengusaha makanan dan minuman.

Menurut Ketua Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Indonesia Thomas Darmawan, momen Hari Raya dan pembayaran gaji ke-13 (total Rp 18 triliun) memang bisa mendorong pertumbuhan industri dan konsumsi pada semester kedua. "Bisa tumbuh di atas 6 persen," tuturnya.

Agus Supriyanto/Fery Firmansyah - Tempo

Komentar Anda :

Disclaimer : Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi Tempo Interaktif. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan
Kirim

Nama:

Kota:

Email:

Judul:

Komentar:

Kode Verifikasi :

Masukkan Kode :