Kredit Seret BNI Naik

Senin, 31 Juli 2006 | 23:44 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta:PT Bank Negara Indonesia Tbk. membukukan kredit seret atau non-performing loan (NPL) kotor Rp 10,04 triliun atau 16,58 persen dari total kredit.

Nilai ini lebih tinggi daripada periode yang sama tahun sebelumnya, yang hanya 12,58 persen. Sedangkan kredit seret bersih tercatat 11,25 persen, naik dibanding periode yang sama tahun lalu, yakni senilai 7,82 persen.

Menurut Direktur Utama BNI Sigit Pramono, kenaikan itu lantaran masih belum maksimalnya restrukturisasi kredit yang dilakukan selama ini. Penyebabnya belum ada kebijakan pemerintah yang bisa mendukung program tersebut.

"Salah satunya kewenangan yang membolehkan kami melakukan pemotongan utang (haircut)," kata Sigit.

Dia menjelaskan, tingginya tingkat kredit seret masih didominasi oleh sektor korporasi 51 persen, usaha menengah 28 persen, usaha kecil dan mikro 14 persen, kredit konsumen 6 persen, serta usaha syariah 1 persen.

Terkait dengan kebijakan penanganan kredit seret, Direktur BNI Achmad Baiquni mengatakan perseroan telah menyiapkan pola restrukturisasi dan penyelesaian kredit hapus buku melalui potongan utang pokok. "Kebijakan ini akan diberlakukan untuk debitor di bawah Rp 5 miliar," katanya.

Baiquni optimistis, dengan adanya kebijakan yang membolehkan bank-bank pemerintah melakukan haircut, tingkat kredit seret BNI hingga akhir tahun bisa turun 40 persen. "Jadi pada akhir 2006 kredit seret kami bisa menjadi 10 persen," ujarnya.

Semester pertama 2006, BNI membukukan laba bersih Rp 839 miliar, turun sembilan persen dibanding periode yang sama 2005, sebesar Rp 921 miliar. Penurunan laba itu disebabkan naiknya beban operasional hingga 24 persen.

"Peningkatan beban operasional karena pos biaya administrasi dan umum, sumber daya manusia, biaya promosi serta biaya lain naik akibat ada program pensiun dini dan kenaikan gaji pegawai," kata Sigit.

Suryani Ika Sari - Tempo






Komentar Anda

Kirim

Nama:

Kota:

Email:

Judul:

Komentar: