Pertumbuhan Industri Farmasi Turun
Selasa, 08 Agustus 2006 | 18:17 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta:Pertumbuhan industri farmasi hingga akhir tahun diperkirakan akan mengalami penurunan menjadi 8-10 persen dibandingkan tahun lalu sebesar 15-17 persen. ?Industri farmasi akan stagnan hingga Desember,? kata Ketua Gabungan Pengusaha Farmasi Indonesia Anthony Ch. Unarjo, Selasa (8/8).
Menurut Anthony, penyebab perunan penurunan akibat adanya peraturan baru. Peraturan tersebut antara lain, labelisasi generik, penurunan harga obat dan labelisasi obat yang menyebabkan pembelian barang menjadi tertahan karena menunggu stok habis.
Dia meminta pemerintah tidak mengleuarkan peraturan baru hingga akhir tahun. ?Peraturan-peraturan baru saja sudah sangat banyak bagi kami,? katanya.
Saat ini, kata Anthony, daya beli masyarakat turun akibat kenaikan bahan bakar minyak tahun lalu. ?Dengan penurunan obat generik saja, ternyata tidak menolong industri farmasi. Ini menunjukkan harga bukan satu-satunya faktor pendorong industri, tapi daya beli,? jelasnya.
Menurut dia, hingga kini belum ada investasi asing yang masuk dalam bentuk pembangunan pabrik farmasi di Indonesia. ?Paling-paling hanya pengembangan dan perluasan lahan. Karena semua pabrik farmasi kelas satu sudah masuk ke Indonesia,? kata Anthony.
Anthony juga memperkirakan hingga akhir tahun ini omzet penjualan di industri farmasih akan naik sebesar 10 persen dibandingkan tahun lalu yang mencapai Rp 23 triliun.
Direktur PT Dexa Medica Ferry A Soetikno menilai kebijakan penurunan harga obat sangat memberatkan industri farmasi. "Memang industri ini harus bersifat sosial, tapi sampai kapan kebijakan ini diterapkan,? katanya. Sebab, kata dia, industri juga harus bertahan menanggung kerugian selama menjual produk berkualitas tinggi dengan harga murah.
RR ARIYANI





