Fed Tetap Mempertahankan Suku Bunga 5,25 Persen
Rabu, 09 Agustus 2006 | 12:05 WIB
TEMPO Interaktif, Washington:Bank sentral Amerika Serikat atau Federal Reserve (Fed) memutuskan tidak menaikkan suku bunga, sehingga suku bunga Fed tetap 5,25 persen.
Ini untuk pertama kalinya dalam dua tahun terakhir Fed tidak menaikkan suku bunga. Pasalnya, sejak 2004 atau 17 kali berturut-turut, Fed selalu menaikkan suku bunga untuk menggenjot inflasi.
Gubernur Fed Ben Bernanke, yang menduduki jabatannya sejak Februari lalu, memilih tetap mempertahankan suku bunga. Dalam keputusan melalui pengambilan suara atau voting, sembilan gubernur bank sentral federal setuju untuk mempertahankan suku bunga dan hanya satu yang setuju untuk menaikkan suku bunga itu.
“Jika inflasi naik, Bernanke akan terkenal sebagai gubernur (bank sentral) yang membuat itu bisa terjadi. Tapi ini akan memukul balik kredibilitas Fed memerangi inflasi di masa yang akan datang,” kata Victor Li, ekonom Villanova School of Business.
Dengan keputusan Fed tetap mempertahankan suku bunga di level 5,25 persen, berarti suku bunga kredit bank-bank komersiil untuk kartu kredit, kredit kepemilikan rumah, serta pinjaman lainnya akan tetap bertahan juga di level.
Sudah pasti ini kabar yang menggembirakan bagi para peminjam di Amerika yang selama sekitar dua tahun selalu dihajar suku bunga pinjaman tinggi.
Fed pernah menurunkan suku bunga untuk menyelamatkan perekonomian dari resesi 2001, yang terpuruk akibat serangan aksi terorisme dan terjadinya gelombang skandal keuangan perusahaan-perusahaan besar sehingga mengguncang bursa saham Wall Street.
Bank Indonesia kemarin memutuskan untuk menurunkan BI Rate sebesar 50 basis poin menjadi 11,75 persen.
Namun, menurut Direktur PT Procon Indah Lini Djafar, penurunan itu tidak bisa serta merta akan menurunkan suku bunga kredit kepemilikan rumah. Pembeli rumah masih akan terbebani suku bunga kredit yang tinggi, paling tidak sampai enam bulan ke depan.
"Kami sebetulnya sudah melihat tren penurunan BI Rate, tapi kalau penurunan itu tidak mencapai satu digit, industri masih tidak bisa kompetitif dibandingkan dengan negara lain," kata Lini kepada Tempo.
AP/Grace S. Gandhi/Rr Ariyani






Komentar Anda :