Sektor Riil Masih Bermasalah, meski BI Rate Turun

Rabu, 09 Agustus 2006 | 19:43 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta:Sektor riil di Tanah Air belum segera pulih meski Bank Indonesia sudah menurunkan 50 basis poin suku bunga Bank Indonesia (BI Rate) menjadi 11,75 persen.

Menurut Staf Khusus Menteri Keuangan Chatib Basri, kebangkitan sektor riil tidak hanya ditentukan oleh tingkat suku bunga yang rendah, tapi juga faktor penghambat internal sektor riil, seperti peraturan perpajakan dan investasi. "Bergeraknya sektor riil mesti dilihat dari dua sisi. Jadi harus ada kombinasi dari Bank Indonesia di sisi kebijakan moneter dan pengusaha dari sisi sektor riil. Jangan lupa, kita pernah punya tingkat bunga rendah, tapi masalah sektor riil tetap ada sehingga tidak jalan," kata Chatib Basri kemarin.

Menteri Perindustrian Fahmi Idris berpendapat penurunan sebesar 50 basis poin itu memang masih jauh dari harapan pengusaha. Mereka menginginkan kisaran bunga pada level 9-10 persen. "Tingkat bunga 11,75 persen belum membantu memulihkan sektor riil."

Kendati demikian, Menteri Fahmi optimistis Bank Indonesia akan menurunkan BI Rate secara kontinu dalam beberapa bulan mendatang. Karena bank sentral memiliki ruang melakukan itu sejumlah kondisi mendukung. "Terbukti dalam dua bulan BI Rate turun dua kali," ujarnya.

Sekretaris Jenderal Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia Fredy Sutrisno mengakui penurunan BI Rate belum berdampak optimal terhadap industri otomotif. "Kalau mau menggigit, BI Rate harus turun minimal 10 persen seperti tahun lalu."

Direktur Eksekutif Gabungan Produsen Makanan dan Minuman Thomas Darmawan berpendapat penurunan BI Rate tidak signifikan, karena pemerintah masih menjaga laju inflasi ke depan. Karena itu, pemerintah diminta menindaklanjutinya dengan menerapkan kebijakan kondusif menggerakkan sektor riil. "Yang lebih penting adalah bagaimana pemerintah menjaga laju inflasi, terutama mendekati akhir tahun dan Hari Raya," ujarnya. Dia mencontohkan, isu-isu seperti impor beras, gula, dan daging bisa mendongkrak kenaikan harga di pasar.

Agus S/Fery/Suryani/Nieke/RR ARIYANI






Komentar Anda

Kirim