Pengadaan Vaksin Flu Burung Riskan J
Jum'at, 11 Agustus 2006 | 03:53 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta:Pengadaan vaksin flu burung H5N2 oleh PT Bio Farma (Persero)--sebagai pemenang tender vaksin 48 juta dosis senilai Rp 12 miliar--riskan. Sebab, hingga kini perjanjian tol manufacturing antara Qilu Animal Health Products Facts, Cina--sebagai pemasok vaksin Bio Farma yang dikabarkan tutup--dengan Yebio Bio Engineer Co. Ltd belum jelas.
Perjanjian tol manufacturing merupakan kesepakatan dua industri untuk menggunakan peralatan salah satu pabrik. Ironisnya, sejumlah sumber Tempo yang dekat Departemen Pertanian mengungkapkan, perjanjian tol manufacturing antara Qilu dan Yebio ini baru keinginan sepihak Qilu.
Salah seorang sumber menyatakan, akibat ketidakjelasan perjanjian ini kemungkinan vaksin impor tersebut akan molor kedatangannya dari jadwal semula awal September. Apalagi, jika dalam perjalanannya, Yebio menolak menjalin kerja sama dengan Qilu.
Biro Hukum Departemen Pertanian, menurut dia, telah mengeluarkan rekomendasi yakni, meminta panitia tender untuk mempertimbangkan kemenangan Bio Farma. "Sebab, kemenangan Bio Farma berpotensi bermasalah hukum di kemudian hari," lanjut sumber ini.
Sumber Tempo yang lain pernah mengungkapkan, Qilu tidak bisa sembarangan menggunakan mesin Yebio. Sebab, penggunaan mesin ini berkaitan dengan certificate of origin (sertifikat asal produk) dari pemerintah Cina.
Menurut dia, jika menggunakan mesin Yebio di Qing Dao, sertifikat tersebut tidak akan keluar atas nama Qilu melainkan Yebio. Padahal, dalam tender Bio Farma harus mengadakan vaksin Qilu .
Celakanya, kata dia, nomor registrasi vaksin Yebio sudah dimiliki PT Indofarma Tbk. yang juga peserta tender tapi kalah. Sehingga, Bio Farma tidak mungkin menggunakan vaksin Yebio tersebut.
Kepala Biro Hukum dan Hubungan Masyarakat Departemen Pertanian, Suprahtomo membantah telah mengeluarkan rekomendasi. "Tidak pernah saya mengeluarkan itu, " katanya.
Direktur Kesehatan Hewan Departemen Pertanian Musny Suatmodjo juga membantah jika kemenangan Bio Farma menabrak rekomendasi Biro Hukum. "Biro hukum recommended,"katanya.
EWO RASWA
Topik :




Komentar Anda :