Harga Minyak Kembali Bergerak Naik

Sabtu, 12 Agustus 2006 | 15:37 WIB

TEMPO Interaktif, New York:Setelah sempat turun pada penutupan perdagangan Kamis, harga minyak mentah ringan untuk kontrak pengiriman September kemarin kembali naik dan bertengger di level US$ 74,35 per barel di New York Mercantile Exchange (siang ini waktu Indonesia).

Harga minyak selama sepekan terakhir sempat menyentuh di atas US$ 77 per barel, begitu BP Plc mengumumkan akan menutup jalur pipa minyak di Alaska. BP akan mengganti pipa sepanjang 26 kilometer, karena perusahaan menemukan terjadinya korosi di jalur pipa dari ladang minyak Prudhoe Bay, Alaska tersebut.

Pasar terguncang karena khawatir pasokan minyak akan kembali terganggu dengan adanya perbaikan pipa itu. Setelah BP Exploration Alaska, Minggu malam mengumumkan akan menutup jalur pipa minyaknya di Alaska, harga minyak langsung melonjak menjadi US$ 76,98 per barel pada Senin. Ini merupakan harga tertinggi sejak 14 Juli 2006, yang saat itu mencapai US$ 77,03 per barel.

Ladang minyak Prudhoe Bay memproduksi 400 ribu barel per hari. Alaska biasanya memasok 800 ribu barel per hari ke kilang-kilang minyak di Pantai Barat (West Coast), Amerika Serikat sebesar 30 persen dari total produksi minyak di wilayah itu.

Pemerintah dan BP memperkirakan perbaikan tersebut membutuhkan waktu berbulan-bulan hingga sekitar Maret tahun depan. Juru bicara BP Neil Chapman mengatakan, untuk memperbaiki dan mengganti jalur pipa yang terkena korosi menghabiskan dana sekitar US$ 170 juta.

BP kemarin berjanji akan tetap memasok minyak. Perusahaan akan memanfaatkan sebagian ladang minyak Prudhoe Bay yang akan tetap dibiarkan berproduksi selama pergantian pipa berlangsung.

Perusahaan saat ini memproduksi sekitar 150 ribu barel minyak dan gas per hari dari sisi sebelah barat ladang minyak yang tetap dibiarkan aktif. BP mentargetkan akan memproduksi 200 ribu barel per hari dari sebagian ladang minyak itu.

“Kami yakin tetap dapat meneruskan pengoperasian sebagian jalur (pipa) dengan aman,” kata Chairman & President BP America Bob Malone.

AP/Grace S Gandhi






Komentar Anda

Kirim