Ekonom Amati Perkembangan Ancaman Bom

Sabtu, 12 Agustus 2006 | 16:22 WIB

TEMPO Interaktif, Washington:Ekonom dan analis saat ini tengah mengamati perkembangan ancaman bom. Pasalnya, jika ancaman itu benar-benar terjadi, banyak kalangan mengkhawatirkan hal itu akan kembali mengganggu perekonomian dunia.

Seperti diketahui, jalur penerbangan pesawat dari Inggris ke Amerika Serikat dua hari lalu mendapat ancaman bom, sehingga sejumlah maskapai memutuskan menunda penerbangan.

Kalangan ekonom dan analis mengkhawatirkan, ancaman-ancaman bom itu akan kembali menguncang perekonomian dunia seperti yang terjadi setelah serangan teroris ke Amerika Serikat pada 11 September 2001 (9/11) lalu.

Perusahaan-perusahaan dikhawatirkan akan kembali menunda rencana investasi mereka dan masyarakat juga menjadi takut bepergian, karena khawatir akan serangan teroris.

Terry Connelly, Dekan Ageno School of Business, Universitas Golden Gate, San Francisco mengatakan, dengan ketidakpastian arah perekonomian sekarang ini karena memanasnya situasi di Timur Tengah dan ancaman teroris, menjadi alasan perusahaan-perusahaan menunda investasi mereka.

Beberapa analis menambahkan, teror bom bisa kembali mengancam industri penerbangan Amerika Serikat yang tengah berusaha pulih kembali setelah serangan teroris ke Washington dan New York lima tahun lalu.

Setelah 9/11, saat ini industri penerbangan di Amerika sebenarnya mulai pulih kembali. Bahkan beberapa perusahaan penerbangan berhasil meraih laba untuk pertama kalinya pada kuartal kedua tahun ini setelah peristiwa tersebut.

Menurut Chief Economist A.G. Edwards & Sons Inc. Gary Thayer, industri penerbangan bisa pulih lebih cepat jika harga bahan bakar tidak melambung. Namun, kombinasi antara masalah tinggihnya harga bahan bakar dan turunnya jumlah penumpang karena orang menjadi takut bepergian akan membuat industri penerbangan bisa kembali terpukul.

Meskipun demikian, ekonom tidak percaya industri penerbangan akan kembali terpuruk sehingga bisa membahayakan perekonomian Amerika.

“Walau bagaimanapun, kita terpaksa harus terbiasa dengan keadaan ini,” kata Kepala Chief Economist Mesirow Financial.

Menurut dia, serangan 9/11 beberapa waktu lalu memang sempat mengguncangkan semua orang, tapi tampaknya jika terjadi lagi serangan seperti itu di negara manapun, orang sudah tidak sekaget dulu lagi.

AP/Grace S Gandhi






Komentar Anda :

Disclaimer : Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi Tempo Interaktif. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan
Kirim

Nama:

Kota:

Email:

Judul:

Komentar: