Pertamina Gagal Peroleh LNG dari Oman

Senin, 14 Agustus 2006 | 19:31 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta:PT Pertamina (Persero) gagal mendapatkan gas alam cair (liquefied natural gas/LNG) dari Oman. LNG dari Oman tersebut direncanakan untuk menutupi kekurangan pasokan ke pembeli Jepang, Korea Selatan dan Taiwan.

Menurut Direktur Utama Pertamina Ari Soemarno, hingga kini pihaknya belum berhasil melakukan negosiasi dengan Oman untuk mendapatkan LNG. "Oman belum menetapkan memberi LNG kepada kami," ujarnya, Senin (14/8).

Ari mengatakan, Pertamina masih mengupayakan untuk melakukan pendekatan dengan Oman. Dia menambahkan, waktu negaosiasi untuk mendapatkan LNG dari negara di Timur Tengah tersebut tidak bisa ditentukan. "Kami berharap bisa cepat, Jepang sudah marah-marah," katanya.

Tahun ini Indonesia dipastikan gagal mengirim 79 kargo LNG kepada pembeli Jepang, Korea Selatan, dan Taiwan. Dari jumlah itu sebanyak 9 kargo berasal dari Kilang Arun di Nanggroe Aceh Darussalam dan 70 kargo dari Kilang Badak, Kalimantan Timur.

Saat ini harga satu kargo LNG dari Indonesia sekitar US$ 25 juta. Bila Indonesia gagal mengapalkan 79 kargo, maka potensi devisa yang hilang sekitar US$ 1,9 miliar atau Rp 18 triliun. Sedangkan satu kargo LNG dari pasar spot sekitar US$ 35 juta.

Menurut Ari, saat ini, untuk mendapatkan pasokan LNG tidak mudah. Hal ini dikarenakan produksi LNG hanya dilakukan oleh beberapa negara di dunia. "Kebanyakan produsen LNG telah terikat kontrak dengan para pembeli," ujarnya.

Negara produsen LNG dunia selain Indonesia adalah Australia, Nigeria, Malaysia, Brunei Darussalam, Mesir dan Oman. Semua negara itu, kata Ari, sudah dijajaki untuk mendapatkan LNG. "Hanya dengan Oman yang paling maju negosiasinya. Tapi sampai sekarang masih negosiasi," katanya.

Tahun lalu Indonesia gagal mengekspor sebanyak 46 kargo LNG ke pembeli Jepang, Taiwan dan Korea Selatan. Akibat kegagalan tersebut potensi pendapatan devisa yang hilang diperkirakan mencapai US$ 1,2 miliar.

Saat ini, Indonesia tercatat sebagai negara pengekspor gas alam cair terbesar di dunia. Setiap tahun rata-rata ekspor gas alam cair Indonesia mencapai 30 juta ton per tahun. Namun, sejak empat tahun terakhir ekspor gas Indonesia mengalami penurunan setiap tahunnya.

Berdasarkan data cadangan gas dan komitmen kontrak penjualan, saat di Kalimantan Timur total cadangan gas sebesar 24,660 triliun kaki kubik (triliun cubic feet/TCF). Dari jumlah tersebut sebanyak 10,115 TCF untuk memenuhi ekspor dan penjualan domestik. Sedangkan kontrak penjualan yang belum komit antara lain untuk ekspor sebanyak 3,516 TCF dan industri dalam negeri 15,931 TCF. Sehingga dari total cadangan dengan kontrak penjualan masih ada defisit gas sebanyak 2,619 TCF.

Sebelumnya juru bicara Total E&P Indonesie Ananda Indris mengatakan, pihaknya sulit memenuhi pasokan memasok gas ke Jawa Tengah melalui pipa bawah laut dari Kalimantan Timur. Menurut dia, produksi gas dari lapangan yang dikelolanya tidak bisa ditingkatkan.

MUHAMAD FASABENI | ALI NUR YASIN

Komentar Anda :

Disclaimer : Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi Tempo Interaktif. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan
Kirim

Nama:

Kota:

Email:

Judul:

Komentar:

Kode Verifikasi :

Masukkan Kode :