Kondisi Ekonomi Konsumen di Triwulan Kedua Tahun Ini Lebih Baik
Senin, 14 Agustus 2006 | 23:54 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta:Kondisi ekonomi konsumen pada triwulan kedua tahun ini lebih baik dibandingkan triwulan pertama. Hasil survey tendensi konsumen (STK) yang dilakukan Badan Pusat Statistik menyatakan, indeks tendensi konsumen (ITK) di triwulan dua meningkat 13,76 poin atau 109,77 dibandingkan triwulan pertama yang 96,01.
“Meningkatnya ITK menunjukkan tingkat kepercayaan konsumen terhadap kondisi perekonomian meningkat tajam,” kata Kepala BPS Rusman Heriawan dalam jumpa pers di Kantornya, Senin (14/8).
Menurut Rusman, meningkatnya ITK terjadi karena peningkatan pendapatan rumah tangga dan berkurangnya pengaruh inflasi terhadap konsumsi. Peningkatan konsumsi yang signifikan terjadi pada pembiayaan perumahan seperti listrik dan air, pendidikan, dan transportasi. Sedangkan penurunan konsumsi tertinggi terjadi pada pengeluaran untuk pakaian dan rekreasi.
Dia menjelaskan, ITK adalah indikator perkembangan ekonomi terkini yang dihasilkan melalui STK. Survei dilakukan tiap triwulan di wilayah Jakarta, Bogor, Tangerang, dan Bekasi dengan responden rumah tangga berpendapatan menengah ke atas. Jumlah sampel dalam survei di triwulan kedua sebanyak 1.500 rumah tangga.
Data BPS menyebutkan, pada triwulan kedua mayoritas rumah tangga (54,92 persen) menyatakan nilai tabungannya tetap. Sementara, rumah tangga yang menyatakan nilai tabungan menurun sebesar 32,64 persen, dan yang menyatakan nilai tabungannya meningkat hanya 12,44 persen.
Akibatnya, nilai indeks kondisi tabungan menurun signifikan yaitu sebesar 57,51 persen. Penurunan nilai tabungan rumah tangga terjadi karena semakin besarnya biaya yang harus dikeluarkan untuk kebutuhan transportasi, pendidikan, dan perumahan.
Sedangkan inflasi yang relatif kecil pada triwulan kedua mengakibatkan konsumsi barang tahan lama tak terpengaruh. Persentase responden yang menyatakan inflasi sangat berpengaruh terhadap pembelian barang tahan lama hanya sebesar 28,67 persen, lebih kecil daripada yang menyatakan tak berpengaruh (37,22 persen). Kondisi itu mengakibatkan nilai indeks untuk pengaruh inflasi terhadap pembelian barang tahan lama meningkat sebesar 108,55.
PRAMONO





