Belanja Pemerintah Akan Terus Naik
Selasa, 15 Agustus 2006 | 21:32 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta:Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati memproyeksikan belanja pemerintah pada semester kedua tahun ini akan lebih tinggi dari dari semester pertama. Sehingga, dia pun optimistis, target pertumbuhan ekonomi 5,8 persen tahun ini bisa tercapai.
Belanja pemerintah yang tumbuh 31,38 persen pada triwulan kedua 2006 dibandingkan dengan triwulan kedua 2005, menurut dia, masih akan lebih tinggi lagi pada dua triwulan berikutnya. Artinya, pertumbuhan ekonomi hingga akhir tahun ini masih akan ditopang oleh konsumsi pemerintah.
Untuk tingkat ekspor, dia memperkirakan, tidak akan jauh dari 10 persen. Sedangkan investasi yang masih minus 0,98 persen diproyeksikan akan menjadi positif setelah Bank Indonesia mulai menunjukkan tren penurunan suku bunga, dan arah pertumbuhan ekonomi yang membaik. "Saya optimistis, akan terjadi ekspansi," tutur Sri Mulyani.
Badan Pusat Statistik kemarin mengumumkan pertumbuhan triwulan kedua 5,22 persen terhadap triwulan kedua 2005.
Kepala Perwakilan IMF untuk Indonesia Stephen Scwartz menyatakan puas dengan realisasi pertumbuhan itu. Menurut dia, angka itu sesuai dengan perkiraan IMF yang telah memprediksikan pertumbuhan 5,2 persen untuk kuartal kedua.
"Berita menggembirakannya, pertumbuhan belanja pemerintah dan ekspor lebih tinggi dari perkiraan," kata dia kepada Tempo. "Berita buruknya, investasi dan konsumsi lebih rendah dari yang diharapkan."
Hal senada disampaikan Kepala Perwakilan Bank Dunia untuk Indonesia Andrew Steer. Dia pun yakin, pertumbuhan pada dua kuartal berikutnya akan lebih baik. "Saya memprediksikan tahun ini bisa tumbuh 5,5 persen," ujarnya.
Namun, menurut Kepala Riset Deutsche Bank Research Profesor Norbert Walter, Indonesia hanya akan tumbuh di bawah 5 persen tahun ini, dan sedikit di atas lima persen pada 2007. Sebab, investasi asing langsung yang masuk ke Indonesia sangat rendah, harga minyak dunia masih melambung tinggi, serta pertumbuhan ekonomi Amerika Serikat pun lambat. "Asia termasuk Indonesia masih sangat tergantung pada Amerika," ujarnya.
Sedangkan, untuk investasi di pasar uang dan modal, menurut dia, tingkat risikonya masih tinggi. Hal ini tercermin dari masih tingginya tingkat suku bunga (BI Rate) di level 11,75 persen. "Risk premium-nya masih empat persen, itu jauh di atas rata- rata risiko negara Asia yang sekitar dua persen," kata Walter.
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono hari ini dijadwalkan akan menyampaikan nota keuangan Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara 2007 ke hadapan Dewan Perwakilan Rakyat. Menurut Wakil Ketua Panitia Anggaran Hafiz Zawawi, pemerintah akan memaparkan sejumla asumsi makro ekonomi untuk tahun depan (lihat tabel). "Untuk pertumbuhan 2007, diasumsikan enam sampai 6,5 persen dari produk domestik bruto," katanya.
AGUS SUPRIYANTO/BAMBANG HARYMURTI/SOFIAN
Topik :




Komentar Anda :