Deutsche Bank: Bank Syariah Cocok bagi Indonesia

Selasa, 15 Agustus 2006 | 22:26 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta:Pimpinan Deutsche Bank Research Profesor Norbert Walter mengatakan sistem perbankan syariah cocok dengan kondisi Indonesia. Jadi ia menyarankan agar Indonesia mengembangkan sistem perbankan syariah lebih baik lagi. "Tidak perlu meniru perbankan konvensional di negara maju," kata dia di Jakarta, Selasa (15/8).

Ekonom Deutsche Bank tersebut membandingkan sistem perbankan Indonesia dengan negara tetangga, Malaysia.

Menurut Walter, Malaysia sukses dalam pengembangan lembaga keuangan dengan menggunakan sistem bagi hasil, sistem perbankan Islam. Keberhasilan itu didukung oleh peraturan dan pengembangan institusi yang baik. Sistem perbankan syariah yang dikembangkan Malaysia berhasil mencakup masyarakat pedesaan melalui grass root banking. Saat ini, pertumbuhan ekonomi Malaysia lebih stabil dan baik. "Sistem ini sesuai diterapkan di Indonesia untuk membangun kepercayaan antara penabung dan pihak bank," katanya.

Sedangkan, sistem perbankan konvensional saat ini dapat dikatakan kurang dapat menjalankan fungsi intermediasinya. "Malah ada nasabah domestik yang lebih percaya menyimpan uangnya di luar negeri," ujar Walter.

Bahkan, pada awal perkembangan sistem keuangan di Jerman dimulai dengan sistem bagi hasil antara kreditor dan debitor. "Awal mulanya lembaga keuangan berkembang dari kerja sama antara kreditor dan petani serta perajin. Kepercayaan yang telah terbangun sekian lama baru bisa membentuk sistem perbankan modern seperti sekarang," tutur dia.

Saat ini pangsa pasar perbankan syariah masih kecil jika dibandingkan dengan perbankan konvensional. Total aset perbankan syariah sekitar Rp 22,7 Triliun, hanya 1,5 persen dari total aset perbankan yang lebih dari Rp 1.500 Triliun.

Sofian

TOPIK






Komentar Anda

Kirim

Nama:

Kota:

Email:

Judul:

Komentar: