PT Kereta Api Minta Pertamina Naikkan Bagi Hasil

Rabu, 16 Agustus 2006 | 07:40 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta:PT Kereta Api (KA) meminta PT Pertamina Ekspolari dan Produksi menaikkan besaran bagi hasil dalam proyek pipanisasi Gresik-Semarang. Ini terkait dengan penunjukan Pertamina sebagai pemenang tender proyek itu lantaran menggandeng PT KA. Namun, PT KA menolak lantaran tawaran bagi hasilnya dinilai terlalu kecil.

“Kami lebih memilih tawaran PT Rekayasa Industri karena ada pembagian saham untuk PT KA sebesar 10 persen,” kata Direktur Utama PT Kereta Api Ronny Wahyudi kepada Tempo, Selasa (15/8). Konsorsium PT Rekayasa Industri dan PT Kereta Api pun selanjutnya kalah dalam tender proyek ini oleh Pertamina E&P.

Pertamina, kata Ronny, juga tidak pernah mempertimbangkan sewa lahan yang digunakan untuk pengerjaan proyek ini sehingga tawaran bagi hasilnya terlalu rendah dari standar yang ditetapkan PT KA. “Kami tetap membuka pintu untuk negoisasi. Kalau tawaran sesuai dengan keinginan, tentu kami akan pertimbangkan.”

Berdasarkan etika bisnis, lanjut Ronny, seharusnya sebagai konsorsium yang kalah tender, pihaknya tidak bisa melakukan kerja sama dengan Pertamina E&P. Namun karena dari pihak Rekayasa Industri tidak keberatan jika PT KA mempertimbangkan tawaran dengan Pertamina. “Tetapi bersyarat yaitu besaran bagi hasilnya harus sama dengan Rekayasa Industi,” katanya.

Sebelumnya PT Pertamina Ekplorasi dan Produksi (E&P) menyatakan tetap akan mengerjakan proyek pipanisasi untuk ruas Gresik-Semarang yang telah ditenderkan oleh Badan Pengatur Kegiatan Hilir Minyak dan Gas (BPH Migas). “Kami minta waktu dua bulan untuk melakukan negosiasi kembali dengan PT Kereta Api,” kata Direktur Pertamina Ari Soemarno.

Pertamina telah ditetapkan oleh BPH Migas tanggal pada 21 Maret 2006 sebagai pemenang pemegang hak khusus ruas transmisi gas bumi Gresik-Semarang. Dalam dokumen tender yang diajukan Pertamina menggandeng PT Kereta Api untuk pemanfaatan lahan jalur kereta api.

Namun Dalam surat bernomor 597/EP1040/2006-SO, tertanggal 13 Juli yang ditandatangani Vice President Utilisasi Gas PT Pertamina EP, Dedi Saroji menjelaskan bahwa PT Kereta Api ternyata tidak dapat melakukan kerjasama dengan Pertamina.

Menurut kepala BPH Migas Tubagus Haryono jika Pertamina tidak mampu mengerjakan proyek ini maka kemungkinan besar pemenang kedua yang mengantikannya yakni Rekayasa Industri yang akan diputuskan dalam rapat komite.

Tubagus menjelaskan saat penawaran, Pertamina memang menawarkan harga tol fee paling rendah dibandingkan penawar lainnya. Saat itu yang diajukan Pertamian sebesar US$ 25 sen per mile mile british thermal unit (mmbtu) sedangkan Rekayasa industri sekitar US$ 41 sen per mmbtu.

Anton Aprianto

Topik :

Komentar Anda :

Disclaimer : Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi Tempo Interaktif. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan
Kirim

Nama:

Kota:

Email:

Judul:

Komentar:

Kode Verifikasi :

Masukkan Kode :