Industri Baja Terintegrasi Layak Insentif

Kamis, 24 Agustus 2006 | 17:44 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta:
Pemerintah memasukkan investasi untuk pabrik baja terintegrasi dalam usulan sektor industri yang layak mendapat insentif sesuai Peraturan Pemerintah Nomor 148 Tahun 2000. Sebab, industri ini dipandang bisa meningkatkan daya saing industri baja nasional sekaligus menyerap tenaga kerja terdidik lebih banyak. Peraturan ini baru selesai revisi.

"Daya saing bisa ditingkatkan karena industri baja terintegrasi bisa menghemat biaya produksi 30 hingga 40 persen," papar I Gusti Putu Suryawirawan, Direktur Industri Logam Departemen Perindustrian di Jakarta, hari ini.

Industri baja terintegrasi yang dimaksud ialah industri baja yang melakukan peleburan bijih besi hingga pembuatan baja canai panas dan dingin (hot/cold rolled coil) sebagai bahan baku yang dibutuhkan industri manufaktur.

Penghematan biaya, lanjut Putu, terutama dilakukan pada sektor energi gas. Pada pabrik baja biasa, volume gas diserap dalam tahap peleburan hingga pembuatan baja dasar. Sementara untuk membuat baja canai, dilakukan di pabrik lain yang notabene juga mengkonsumsi gas sebagai bahan bakarnya.

"Nah, dalam pabrik baja terintegrasi, begitu baja dasar selesai dibuat langsung dilakukan proses pembuatan baja canai tanpa bahan gas tambahan. Ini kan, menghemat energi," ujar Putu.

Selain efisiensi, Putu yakin serapan tenaga kerja pada industri baja terintegrasi lebih banyak terutama untuk yang terdidik. "Apalagi jika kapasitas pabriknya mencapai 1 hingga 2 juta ton per tahun dan berorientasi ekspor," lanjutnya.

Menurut Putu, selama ini di Indonesia belum ada industri baja terintegrasi. Padahal, saat ini kebutuhan nasional sebagian masih dipenuhi melalui impor. Kebutuhan baja nasional mencapai 6 juta ton per tahun, sebanyak 3,5 juta ton di antaranya dipenuhi produsen lokal dan sisanya diimpor. Diperkirakan, konsumsi baja per tahunnya meningkat 10 hingga 15 persen, seiring membaiknya kondisi ekonomi makro.

"Itu sebabnya keberadaan industri baja terintegrasi amat diperlukan. Pemberian insentif ini diharapkan bisa memicu gairah para investor," kata Putu.

Besaran skala investasi yang diharapkan bergantung pada permintaan konsumen akan baja. Putu berharap, investor memulai investasi mulai dari pabrik dengan skala produksi 300 ribu ton per tahun.

Saat ini, menurut dia, PT Krakatau Steel (Persero) sudah banyak mendapat tawaran kerja sama membangun pabrik baja terintegrasi dari investor asing. Salah satunya, dari SMS Demag, pabrikan baja asal Jerman. “Tapi rencana ini belum ada kejelasan lebih lanjut," kata Putu.

FERY FIRMANSYAH






Komentar Anda

Kirim

Nama:

Kota:

Email:

Judul:

Komentar: