Pembatalan Transaksi Bumi Karena Ketidakcocokan Harga
Rabu, 30 Agustus 2006 | 21:41 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta:Penyebab pembatalan transaksi penjualan lima anak usaha PT Bumi Resources Tbk. dengan PT Borneo Lumbung Energi karena tidak tercapainya kesepakatan harga. Padahal, semula kedua belah pihak sudah sepakat nilai transaksi US$ 3,25 miliar atau sekitar Rp 29 triliun pada 16 Maret lalu.
"Kesepakatan bersama untuk membatalkan sehubungan tidak tercapainya kesepakatan harga penjualan akhir," kata Direktur Utama Bumi, Ary Hudaya, dalam paparan publik di Gedung Bursa Efek Jakarta, Rabu (30/8) Tapi dia tidak bersedia menjelaskan penyebab ketidakcocokan harga penjualan.
Beberapa pertanyaan yang diajukan investor dan analis dalam acara itu juga tidak dijawab manajemen Bumi, yang diwakili oleh Ary dan Direktur Keuangan Eddy Sobari. "Saya hanya bisa menjelaskan itu," kata Ary.
Analis PT Trimegah Sekuritas, Sebastian Tobing, mengaku masih belum puas dengan penjelasan itu. "Seharusnya Bumi memberikan penjelasan lebih soal posisi keuangan anak perusahaan," katanya saat dihubungi Tempo, kemarin.
Kabar yang santer beredar pembatalan penjualan lima anak usaha Bumi: Kaltim Prima, Arutmin, Indocoal Resources, Indokaltim, dan Indokalsel, pada pekan lalu karena kinerja Kaltim Prima sepanjang pertengahan tahun ini merosot. Sumber Tempo mengatakan, Borneo ---afiliasi PT Renaissance Capital, meminta Bumi menurunkan harga penjualan jadi US$ 2,8 miliar. "Pendapatan sebelum pajak (EBITDA) KPC lebih rendah dibandingkan akhir tahun lalu," kata sumber itu.
Tapi Ary membantah informasi tersebut. "Semua berjalan sesuai target," katanya. Dia mengatakan, sesungguhnya harga penjualan KPC dan Arutmin di atas US$ 3,2 miliar. Tapi dia menolak menyebutkan kondisi kinerja keuangan dua anak usaha Bumi tersebut.
YULIAWATI | YURA SYAHRUL | MARLINA MS





