Menteri Pertanian Berharap Tiada Lagi Impor Beras Tahun Ini
Sabtu, 02 September 2006 | 16:34 WIB
TEMPO Interaktif, Bogor:
Menteri Pertanian Anton Apriantono berharap, pemerintah tidak akan melakukan impor beras tambahan di luar 210 ribu ton hingga akhir tahun ini. “Mudah-mudahan sudah cukup, “ kata Anton usai Dies Natalis Institut Pertanian Bogor, Sabtu (2/9).
Anton menjelaskan, Departemen Pertanian hanya menyetujui impor untuk tujuan tertentu. Dia menyebut, bencana merupakan alasan utama kenapa departemennya belakangan menyetujui impor beras.
Pemerintah, kata dia, tidak bisa bermain-main dengan permasalahan bencana. Sebab tidak ada satu pihak pun yang mampu memperkirakan terjadinya bencana. “Harus ada cadangan beras yang cukup. Itu masalahnya, “ tutur dia.
Pembelian beras dari dalam negeri, lanjut dia, saat ini dikhawatirkan terus membuat harga beras naik. Padahal harga beras yang rata-rata Rp 4.300 per kilogram sudah cukup baik. “Kalau naik terus kasihan sama rakyat miskin”.
Seperti diberitakan, pemerintah memutuskan impor beras 210 ribu ton untuk menambah cadangan pemerintah di Perusahaan Umum Bulog yang kurang dari 350 ribu ton. Beras impor ini diperkirakan datang paling cepat akhir September.
Anton juga membantah jika impor beras dilakukan karena Indonesia kekurangan beras. Menurut dia, Indonesia sudah mampu memenuhi lebih dari 99 persen kebutuhan berasnya dari produksi dalam negeri. Sementara suatu negara bisa dikatakan swasembada jika mampu memenuhi 90-95 persen kebutuhan beras dari produksi dalam negerinya. Artinya, Indonesia sejatinya sudah mengalami swasembada beras.
Dia juga berharap, masyarakat dapat mengubah pemahaman soal swasembada beras ini. Alasannya, Indonesia tidak pernah mengalami swasembada jika harus 100 persen memenuhi kebutuhan beras dari dalam negeri.
Selain itu, kata dia, Indonesia akan kesulitan jika sama sekali menutup impor. Ini dikarenakan kebijakan ini akan ditentang oleh Organisasi Perdagangan Dunia (WTO). “Kalau impor cuma satu persen jangan dipermasalahkan," kata Anton, “Itu hanya perangkat dalam perdagangan saja”. ewo raswa





