Kenaikan Nilai Ekspor Juli Bukan Prestasi Pemerintah
Sabtu, 02 September 2006 | 17:06 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta:Ekonom Tim Indonesia Bangkit menyatakan kenaikan angka ekspor Juli yang mencapai US$ 8,82 miliar bukan prestasi yang mesti dibanggakan Pemerintah. “Kenaikan itu bukan hasil kerja keras pemerintah,” kata Iman di Jakarta, Sabtu (2/9).
Sebelumnya, Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan ekspor Indonesia kembali memecahkan rekor. Setelah bulan Juni lalu nilai ekspor mencapai US$ 8,34 miliar, pada Juli nilai ekspor mencapai US$ 8,82 miliar atau meningkat 4 persen. Sebelumnya, ekspor Juni merupakan rekor ekspor tertinggi sepanjang sejarah.
Menurut Kepala BPS Rusman Heriawan, nilai ekspor sejak Januari hingga Juli juga meningkat 16,42 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Total nilai ekspor sejak Januari mencapai US$ 55,77 miliar.
Iman menjelaskan , peningkatan nilai ekpor hanyalah dampak dari faktor eksternal di luar kendali pemerintah, yakni karena naiknya harga berbagai komoditas di pasar internasional. Harga produk pertambangan terutama minyak dan gas bumi menjadi sebab utama. Ekspor produk nonmigas Indonesia juga ikut naik karena harga-harga bahan mentah, seperti karet maupun minyak sawit (crude palm oil atau CPO) juga naik. “Jadi bukan karena peningkatan produksi di dalam negeri sehingga ekspor naik,” kata dia.
Harga berbagai produk tersebut, terutama minyak, kata Iman, fluktuasinya sangat tajam. Menurutnya, di pasar dunia produk barang mentah (produk primer) juga sangat tinggi fluktuasi harganya. Saat ini harganya tinggi, tetapi sewaktu-waktu harganya anjlok maka ekspor Indonesia juga bisa anjlok secara tiba-tiba.
Karenanya, lanjut dia, ekspor produk primer tidak bisa diandalkan terus-terusan sebagai penarik devisa. Indonesia harus lebih banyak mengekspor produk-produk hasil olahan yang harganya di pasar dunia lebih stabil.
“Banyak negara sekarang yang sudah mengarah pada ekspor produk yang tidak fluktuatif,” kata Iman. Malaysia, misalnya, tidak lagi mengekspor CPO tapi sudah mengekspor produk-produk turunannya seperti margarin dan minyak goreng.
Kecenderungan tingginya harga produk primer saat ini, tutur Iman, membuat Indonesia terlena. Fenomena yang terjadi adalah semakin besarnya proses deindustrialisasi karena lebih banyak produk primer yang diekspor. Akibatnya industri manufakturing di dalam negeri justru menurun.
“Kalau pemerintah ingin lebih bagus (prestasinya) maka mulailah mengekspor produk yang sudah punya nilai tambah dengan mengolahnya di dalam negeri,” kata Iman.
AGUS SUPRIYANTO




Komentar Anda :