Penurunan Harga Beras Diperkirakan Hanya Sesaat

Sabtu, 02 September 2006 | 18:54 WIB

TEMPO Interaktif, Bogor:
Departemen Pertanian memperkirakan penurunan harga beras akibat kontroversi impor beras hanya berlangsung sesaat. “Penurunan harga beras itu lebih disebabkan persepsi saja, “ kata Menteri Pertanian Anton Apriyantono usai menghadiri Dies Natalis ke-43 Institut Pertanian Bogor, Sabtu (2/9).

Anton menjelaskan, penurunan harga beras harus dilihat secara luas dengan pengambilan sampel memadai. “Sekarang mana data Badan Pusat Statistik. Berapa sampelnya,“ ujarnya.

Meski demikian, dia mengakui bahwa impor beras memiliki dampak psikologis dalam menurunkan harga beras yang kini di atas Rp 4.000 per kilogram. Hanya saja, penurunan harga ini diharapkan tidak akan berlanjut. Alasannya, beras impor hanya disimpan di gudang Perum Bulog dan tidak masuk ke pasar.

Seperti diberitakan, pemerintah akhirnya memutuskan mengimpor 210 ribu ton beras. Beras impor ini akan digunakan untuk menambah cadangan beras pemerintah yang dikelola Perusahaan Umum Bulog yang anjlok kurang 350 ribu ton.

Menteri Koordinator Perekonomian Boediono saat itu menjelaskan, impor ini mendesak dilakukan menyusul menyusutnya cadangan beras pemerintah akibat tersedot untuk bantuan bencana dan operasi pasar. Beras impor yang akan dibeli dari dana Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (PABN) Perubahan 2006 sebesar Rp 390 miliar ini diperkirakan akan datang paling cepat akhir bulan ini.

Namun, akibat keputusan itu harga beras di sejumlah daerah mulai mengalami penurunan. Di Sukoharjo Jawa Tengah, misalnya, harga beras sudah turun dari Rp 4.400 per kilogram menjadi Rp 4.200.

Anton menjelaskan, harga beras diperkirakan naik kembali dalam beberapa waktu mendatang. Sebab, pada periode Oktober-Januari, jumlah produksi padi sudah menurun dan berada di bawah konsumsi. Dengan demikian harga beras pada periode itu akan naik.

Hanya saja, lanjut dia, kenaikan harga itu tidak akan sebesar jika tidak dilakukan impor beras. Bahkan, rata-rata harga beras nasional diprediksi tidak lebih dari Rp 5.000 per kilogram.

ewo raswa






Komentar Anda

Kirim

Nama:

Kota:

Email:

Judul:

Komentar: