Lokasi Lumpur Lapindo yang Ambles Tak Terselamatkan

Sabtu, 02 September 2006 | 20:26 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta:Ahli geologi Ir. Andang Bachtiar Msc berpendapat, lokasi sekitar luapan lumpur Lapindo yang amblas itu diprediksi menjadi kawasan tak terselamatkan. Konsekuensinya diperlukan perubahan tata ruang dan pemberian kompensasi yang rancangannya harus disiapkan sejak saat ini.

Sebelumnya, Manajer Eksplorasi PT Lapindo Brantas Inc., Bambang P. Istadi, mengungkapkan, wilayah dalam radius 2 kilometer dari pusat semburan lumpur mulai amblas. "Dalam waktu satu bulan terjadi penurunan rata-rata lima centimeter," kata Bambang di Bandung, Sabtu (2/9).

Menurut dia, kepastian laju penurunan itu diperoleh dari pengamatan penurunan tanah melalui GPS Subsidence Monitoring yang dilakukan selama satu bulan. Dalam satu tahun, diperkirakan akan terjadi penurunan sektiar 60 centimeter atau 6 meter dalam sepuluh tahun.

Kini, Lapindo sedang melakukan survey 4Dgravity dan GPS Monitoring pada lokasi baru dengan areal yang lebih luas. Survei itu bertujuan menghitung luasan areal yang akan terkena dampak penurunan itu.

Andang melanjutkan, perubahan tata tuang agak kompleks mengingat penanganannya harus terintegrasi. Jika pembuangan lumpur tidak dilakukan dengan cepat, dikhawatirkan luapannya akan meluber dan tanah amblas pun akan meluas.

Mengenai kompensasi, Andang menyatakan, harus dibuat tata ruang baru bagi kawasan tersebut. Selain itu, sesegera mungkin harus dipikirkan rencana relokasi jalan tol dan lintasan kereta api di sekitar kawasan tersebut, mengingat kerawanan yang ditimbulkan.

“Amblasnya tanah pada radius 1,5 hingga 2 km dari sumber sudah diperkirakan sebelumnya. Ini merupakan penyesuaian isostatik atau penyesuaian penurunan permukaan tanah selama lumpur dari bawah permukaan bumi keluar," kata Andang yang juga mantan Ketua Umum Ikatan Ahli Geologi Indonesia kepada Tempo, Sabtu (2/9) malam.

Ia menjelaskan, hingga kini belum diketahui pola kecepatan penurunan tanah. Namun, jika pola penurunan tanah itu berlangsung teratur, diperkirakan kedalaman kawasan tersebut bisa mencapai maksimal 10 meter dalam 10 tahun. Kelak lokasi amblas tersebut akan membentuk semacam kawah atau crater yang terus menerus mengalami penurunan. Diperkirakan, pengerasan tanah tepi kawah tersebut akan terjadi setelah 5 hingga 10 tahun. "Jadi kawasan tersebut saya pikir tidak akan terselamatkan lagi," ujarnya.

Ia kemudian membandingkan kejadian tersebut dengan kawasan obyek wisata Bledug Kuwu, Jawa Timur. Di sana penyesuaian isostatis juga berlangsung terus-menerus.
FERY FIRMANSYAH






Komentar Anda

Kirim