Penanganan Flu Burung Masih Rendah

Sabtu, 02 September 2006 | 22:37 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta:Pemerintah dinilai masih rendah menangani virus flu burung. Padahal virus ini bisa mengancam perekonomian nasional.

Menurut Ketua Gabungan Pengusaha Perunggasan Indonesia Anton Supit, pelaksanaan kebijakan pencegahan virus ini sangat rendah sehingga penanggulangan masalah ini tidak mendapat prioritas yang layak. Padahal jumlah korban dan luas penyebaran virus terus bertambah.

Data terakhir, penyebaran virus flu burung mencapai 273 kabupaten pada 29 provinsi. Hanya provinsi Sulawesi Utara, Gorontalo, Maluku, dan Malaku Utara yang belum tertular virus ini. Di lihat dari pola penyebaran dan asal korban, virus terutama berasal dari peternakan unggas rakyat atau peternak menengah dan kecil (sektor 3 dan sektor 4).

Anton menjelaskan, peternak di sektor 3 dan 4 sangat banyak dan kontribusinya terhadap perekonomian juga sangat besar. Sekitar 80 persen dari 2,5 juta tenaga kerja di sektor perunggasan berasal dari sektor 3 dan 4. "Nasib mereka harus menjadi perhatian utama pemerintah," kata Anton dalam siaran persnya kepada Tempo, Sabtu (2/9).

Karena itu, lanjut dia, penanganan flu burung harus dilakukan secara terintegrasi dan terkoordiansi. Jangan hanya mengandal vaksinisasi atau pemusnahan unggas. Namun, harus diikuti dengan penerapan protocol biosecurity secara disiplin, yakni mulai dari proses pembibitan, budidaya, pengolahan daging ayam sampai ke masyarakat konsumen. "Vietnam dan Cina dapat keluar dari masalah flu burung karena pemerintahnya berhasil mengimplementasikan kebijakan itu secara tegas dan terpadu," ucapnya.

Dia mencontohkan, pemerintah kedua negara langsung tanggap dengan merangkul dan membangun koordinasi yang kuat dari berbagai elemen, mulai dari instansi pemerintah, swasta, dan masyarakat. "Mereka langsung mengambil tindakan tegas dengan segera membatasi lalu lintas unggas serta menerap biosecurity di semua lini. Kini boleh dikatakan tidak ada lagi pemotongan ayam di pasar-pasar basah di sana. Semuanya diarahkan ke rumah potong sehingga penerapan protocol biosecurity dalam pengolahan daging unggas bisa terjamin." syakur usman






Komentar Anda

Kirim

Nama:

Kota:

Email:

Judul:

Komentar: