Investor Bahrain Minati Kiani Kertas
Rabu, 06 September 2006 | 09:24 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta:Prabowo Subianto, pemilik PT Kiani Kertas, sedang menjajaki penjualan sahamnya kepada investor dari Bahrain.
"Saat ini ada investor sangat serius dari Bahrain yang ingin membeli Kiani," kata Komisaris Kiani Kertas Luhut Panjaitan kepada Tempo di Jakarta. Namun, Luhut belum bersedia memerinci identitas investor asal Timur Tengah itu.
Penjualan saham Kiani kepada investor ini terkait dengan upaya mantan Komandan Komando Pasukan Khusus ini dalam menyelesaikan utangnya kepada PT Bank Mandiri Tbk., yakni sekitar US$ 201 juta.
Menurut Luhut, manajemen Kiani siap menyelesaikan utangnya ke Bank Mandiri. Bahkan, kata dia, Prabowo juga ingin masalah kredit Kiani cepat berakhir dan tidak membebani bank pelat merah tersebut.
Ia optimistis, penjualan Kiani kepada investor akan sukses dan mendapatkan harga yang optimal. "Apalagi harga bubur kertas saat ini sedang naik," kata dia.
Upaya Prabowo menjual Kiani sesungguhnya sudah lama dilakukan. Semula Kiani akan dijual kepada Putera Sampoerna. Namun, transaksi batal kedua belah pihak tak menyepakati perjanjian jual-beli.
United Fiber System (UFS) juga sangat berminat membeli Kiani. Perusahaan yang berbasis di Singapura ini sudah hampir mencapai kesepakatan dengan Prabowo.
Bahkan UFS mengajukan izin kepada Bursa Efek Singapura untuk mengakuisisi Kiani Kertas. Jika permohonan disetujui Bursa Singapura, UFS akan membeli keseluruhan ekuitas Kiani senilai US$ 220 juta, ditambah kewajiban pembayaran utang Kiani ke bank asing dan lokal.
Namun, hingga saat ini akuisisi UFS atas Kiani itu belum ada kejelasan. Justru muncul kabar terbaru bahwa investor asal Bahrain juga berminat membeli Kiani.
Luhut tak menyinggung soal UFS. Dia hanya menyebutkan proses penjualan aset memang lama karena tidak jarang investor yang datang menawar dengan harga kelewat murah.
Ditemui di sela-sela acara Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) kemarin, Prabowo enggan berkomentar soal nasib pembelian perusahaannya oleh investor asal Bahrain tersebut. "Ini pembicaraannya tentang HKTI. Ini soal impor beras," ujarnya.
Ia juga enggan berkomentar soal desakan PT Bank Mandiri Tbk. agar perusahaan kertas ini segera membayar utangnya. "Tolong, jangan tanya soal itu. Tunggu penyelesaian dulu," ujarnya.
Budiriza/Ewo Raswa





