Tender Pembangunan Serat Optik Dibuka Akhir Tahun

Rabu, 06 September 2006 | 18:41 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta:Tender pembangunan jaringan serat optik di Indonesia akan dibuka akhir tahun ini.

Menteri Komunikasi dan Informatika Sofyan Djalil mengatakan, tender tersebut juga terbuka bagi investor asing. “Tapi akan dibatasi, yakni hanya diberikan kepada investor asing yang memiliki saham kurang dari seratus persen di perusahaan telekomunikasi Indonesia,” kata Sofyan usai membuka suatu pameran di Jakarta, Rabu (6/9).

Pemerintah saat ini sedang menyusun draf peraturan mengenai persyaratan tender serat optik ini. Draf itu akan selesai paling lama dua bulan. Indonesia membutuhkan jaringan serat optik sepanjang 35 ribu kilometer. Saat ini jaringan yang ersedia baru 12 ribu kilometer. Serat optik dibutuhkan untuk memperluas jaringan telekomunikasi pita lebar (broadband) di Tanah Air. Dengan penggunaan serat optik, publik akan dapat mengakses internet dengan tarif murah karena harga sewa serat optik lebih rendah daripada kabel. Ditargetkan pada medio 2007, tarif internet di Indonesia akan sama murahnya dengan Singapura.

Pemerintah, lanjut Sofyan, akan menggunakan dua pendekatan dalam tender ini. Pertama, mendorong investor siapa saja yang mampu membangun serat optik ke Indonesia dan dari Indonesia ke luar negeri. Yang kedua, bagi perusahaan telekomunikasi yang mampu mengembangkan jaringan serat optik ini akan diberi insentif fasilitas international direct dialling atau sambungan telepon internasional (SLI).

Ketua Asosiasi Pengusaha Komputer Indonesia Henkyanto Tjokroadhiguno berpendapat, pembangunan jaringan kabel optik bisa membuat biaya akses internet menjadi lebih murah sehingga dapat mengembangkan industri komputer terutama komputer lokal.

Menurut dia, dengan biaya akses internet murah, masyarakat akan tertarik menggunakan internet. Ketertarikan itu membuat permintaan komputer akan meningkat. “ Kebutuhan komputer itu tentu bakal menggairahkan industri komputer,” ujarnya.

Dia melanjutkan, pasar Indonesia yang besar membuat pelaku usaha komputer lokal mengembangkan produknya agar bisa bersaing dengan komputer-komputer produksi luar negeri. “Pada tahun lalu, hanya ada empat merek lokal, tapi sekarang jumlahnya sudah mencapai belasan.” Eko Nopiansyah






Komentar Anda

Kirim

Nama:

Kota:

Email:

Judul:

Komentar: