"Indonesia Belum Bisa Imbangi Singapura"
Jum'at, 08 September 2006 | 03:55 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta:Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Muhammad Luthfi mengakui, Indonesia belum mampu mengimbangi kinerja negara lain, seperti Singapura, dalam memberikan kumudahan berbisnis. Negara itu secara cepat menunjukkan kemajuan dalam perbaikan iklim investasi.
"Mereka jelas lebih cepat dari Indonesia. Negara lain selangkah lebih maju," kata Luthfi kepada Tempo.
Luthfi dimintai komentarnya soal hasil survei Bank Dunia dan International Finance Corporation. Bank Dunia dalam 'Doing Business 2007' antara lain menyebutkan, iklim berbisnis di Indonesia tahun lalu membaik dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Namun, dibandingkan dengan negara-negara lain, terutama di Asia, peringkat Indonesia turun dari urutan 135 pada 2004 menjadi urutan ke 131 pada 2005.
Karena itu, menurut Luthfi, pemerintah akan terus melakukan reformasi perizinan. Dia optimistis, kebijakan investasi yang baru akan membuat angka investasi asing bisa meningkat.
Dia menambahkan, upaya perbaikan perizinan untuk daerah-daerah lainnya di Indonesia akan mengikuti model yang telah berhasil dikembangkan di Batam.
Batam berhasil mengurangi waktu proses perizinan dari 151 hari menjadi 97 hari. "Tapi proses menuju ke arah sana memerlukan komitmen yang jelas dari semua pihak, tidak hanya dari BKPM saja," ujarnya.
Menteri Koordinator Perekonomian Boediono mengatakan, pemerintah akan menggunakan laporan Bank Dunia itu sebagai masukan. Yang jelas, dia melanjutkan, pemerintah akan terus melakukan perbaikan untuk meningkatkan investasi. "Terutama dalam melaksanakan sebaik mungkin paket-paket kebijakan ekonomi," kata Boediono.
Usai Rapat Kabinet Penanggulangan Kemiskinan di Kantor Presiden, Boediono kembali ditanyai hasil survei Bank Dunia. "Saya katakan berkali-kali, survei adalah survei," ujarnya. "Peringkat jadi masukan tapi bukan tujuan. Yang lebih penting misalnya, mengendalikan inflasi."
Daripada memikirkan soal peringkat, Boediono melanjutkan, pemerintah lebih baik konsentrasi agar investasi bisa masuk ke Indonesia. "Dan itu sudah dimulai di Batam. Itu pertanda baik," ujarnya.
Pemerintah, kata Boediono, sudah berusaha membuat iklim investasi di Indonesia lebih seksi. Di Kawasan Ekonomi Khusus Bintan-Batam-Karimun misalnya, pemerintah sudah membentuk pelayanan terpadu. Namun, Boediono mengakui, memang masih banyak peraturan yang perlu disempurnakan.
Berdasarkan data Badan Koordinasi Penanaman Modal, realisasi persetujuan penanaman modal asing semester pertama tahun ini turun menjadi US$ 3,7 miliar dari US$ 4,9 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya. Sebaliknya, realisasi persetujuan penanaman modal dalam negeri meningkat menjadi Rp 11,46 triliun dibanding Rp 9,61 triliun pada semester pertama tahun lalu.
Fery Firmansyah/Badriah/Pramono




Komentar Anda :