close

Kawat Baja Cina Diduga Barang Selundupan

Senin, 11 September 2006 | 15:42 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta:Produk kawat Baja (Wire Rod) yang berasal dari Cina diduga hasil penyelundupan dan praktek dumping. Sebab, produk itu dijual lebih murah ketimbang harga internasional.

Direktur Jenderal Industri Logam, Mesin, Tekstil dan Aneka Departemen Perindustrian Ansari Bukhari menuturkan, pemerintah segera melakukan verifikasi teknis, terkait adanya dugaan itu.

Di pasar nasional, kawat baja impor dari Cina masuk dan diedarkan dengan harga US$ 200-300 per ton. Harga ini jauh di bawah harga pasaran internasional yang mencapai US$ 800-1.000 per ton.

“Dugaan kami, jumlah kawat baja selundupan cukup signifikan mengingat dari kebutuhan dalam negeri sebesar 11.000 ton per tahun, setengahnya masih diimpor,” ujarnya di Jakarta, hari ini.

Saat ini, produksi kawat baja nasional hanya mencapai 3.500 hingga 4.000 ton per tahunnya dari empat perusahaan lokal.

Selain dengan cara konvensional, Ansari mengungkapkan, saat ini marak modus penyelundupan baru dengan cara memanipulasi harga komoditi pada dokumen impor (under invoice). Dalam izin impor, para pelaku mencantumkan nilai harga yang lebih rendah dari harga transaksi sebenarnya.

“Hal ini jelas merugikan negara, bea masuk dan pajak pertambahanan nilai untuk mereka kan, jadi lebih murah. Ini jadi modus baru praktek penyelundupan,” kata Ansari.

Ansari menambahkan, produsen kawat baja nasional telah secara resmi meminta pihaknya bersama instansi lain yang terkait, seperti Direktorat Perdagangan Luar Negeri Departemen Perdagangan dan Direktorat Bea Cukai, untuk segera melakukan verifikasi teknis bagi seluruh importir umum produk kawat baja.

FERY FIRMANSYAH

  • Share on Facebook
  • Print
  • Send

Topik :

Komentar Anda [1] :

  • Mana aja

    memang pabrik kawat baja di indonesia dimana aja sih????? dan apa namanya????? soalnya sya pengen tau......

Kirim Komentar

Nama:

Kota:

Email:

Judul:

Komentar:

Kode Verifikasi :

Masukkan Kode :

Disclaimer : Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi Tempo Interaktif. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan