Pemisahan Lapindo Menunggu Persetujuan Kreditor

Selasa, 26 September 2006 | 03:54 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta:Rencana PT Energi Mega Persada Tbk. menjual Lapindo Brantas Inc. masih terganjal penyelesaian pembayaran utang. Merrill Lynch, sebagai pihak kreditor, belum memberikan tanggapan atau persetujuan atas aksi korporasi tersebut.

Sekretaris Perusahaan Energi Mega Herwin Hidayat mengatakan pihaknya masih melakukan negosiasi dengan kreditor perihal cara penyelesaian kewajiban Lapindo. Anak perusahaan Energi melalui Kalila Energy Ltd. dan Pan Asia Enterprise Ltd. itu punya utang US$ 120 juta kepada Merrill Lynch.

Menurut Herwin, utang itu diberikan kepada Energi untuk mengembangkan Blok Brantas (yang dikelola Lapindo) dan Blok Malacca. Jika Merrill Lynch tidak setuju utang tersebut dialihkan kepada pemilik baru Lapindo, Energi Mega menyiapkan rencana pembiayaan kembali (refinancing) utang tersebut. "Kami akan (melakukan) refinancing," kata Herwin kepada Tempo.

Selain persetujuan kreditor, kata Herwin, Energi Mega masih menanti persetujuan Badan Pengawas Pasar Modal dan rapat umum pemegang saham atas penjualan Lapindo. "Semua prosesnya paralel," katanya.

Rencananya, perusahaan bakal menggelar rapat pemegang saham 20 Oktober mendatang.

Seperti diketahui, Energi melepas Lapindo dengan cara menjual kepemilikan sahamnya di Kalila dan Pan Asia kepada Lyte Limited. Lyte adalah perusahaan yang berdomisili di Kepulauan Jersey, Inggris, yang berdiri pada 17 Januari 2006 dengan modal dasar 10 ribu pound sterling. Perusahaan ini bakal bersalin nama jadi Bakrie Oil and Gas Limited, yang dikendalikan Grup Bakrie.

Energi Mega menjual Lapindo seharga US$ 2 untuk menekan kerugian akibat musibah semburan lumpur panas di Sidoarjo, Jawa Timur, yang hingga kini belum dapat dihentikan.

Herwin mengatakan nilai penjualan itu sudah dihitung tim independen berdasarkan kalkulasi biaya yang sudah dan akan dikeluarkan Lapindo untuk semburan lumpur panas.

Penilai independen Trustel Capital menghitung nilai pasar wajar Kalila negatif US$ 22,815 juta, sedangkan nilai Pan Asia negatif US$ 208,005 ribu.

"Ini dihitung berdasarkan kondisi Blok Brantas," kata Senior Partner Trustel Capital Saiful M. Ruky dalam laporan Energi Mega kepada Bursa Efek Jakarta akhir pekan lalu. "Jadi harga US$ 2 sudah melebihi harga nilai pasar wajar," katanya.

Analis Valbury Securities, Danny Eugene, mengatakan saham Energi Mega bakal meningkat pascapenjualan Lapindo. "Untuk jangka panjang, perusahaan ini menjadi semakin menarik," katanya.

Yuliawati/Marlina M.S.






Komentar Anda

Kirim

Nama:

Kota:

Email:

Judul:

Komentar: