Inflasi September Terkendali
Senin, 02 Oktober 2006 | 19:09 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta:Kenaikan harga kelompok barang dan jasa, seperti makanan, minuman, air, listrik, dan rokok menyebabkan inflasi pada September naik menjadi 0,38 persen dibanding inflasi Agustus yang mencapai 0,33 persen.
Namun, tingkat laju inflasi September 2006 turun menjadi 14,55 persen dari September 2005 serta laju inflasi tahun kalender (Januari-September) 2006 mencapai 4,06 persen. Sedangkan inflasi komponen inti September 0,35 persen dan year on year 9,13 persen.
Kepala Badan Pusat Statistik Rusman Heriawan menilai, angka inflasi September masih wajar karena inflasi masih dapat dikontrol. Angka inflasi ini masih jauh lebih kecil dibandingkan dengan inflasi pada Oktober 2005 yang mencapai 8,7 persen, karena harga bahan bakar minyak naik.
Karena itu, dia optimistis, inflasi sampai akhir tahun bisa di bawah dua digit. "Kalau tidak ada yang luar biasa, inflasi year on year (tahun ini dibanding tahun lalu) akan terjun sangat drastis di bawah 10 persen," kata Rusman kemarin.
Menurut dia, inflasi yang terjadi pada September terutama disebabkan kenaikan harga bahan makanan (0,62 persen). Dampak psikologis peningkatan kebutuhan menjelang hari raya mempengaruhi kenaikan harga makanan.
"Tapi harga sandang justru turun karena ada obral harga," kata Rusman. "Turunnya harga beras juga disebabkan dampak psikologis rencana impor beras."
Dari 45 kota, 39 kota mengalami inflasi dan enam kota deflasi. Inflasi tertinggi terjadi di Lhokseumawae, terendah di Tasikmalaya dan Denpasar. Sedangkan Ambonmengalami deflasi terbesar dan Makassar terkecil.
Deflasi yang terjadi pada komoditas kelompok bahan makanan, seperti bawang merah sebesar 0,07 persen, beras sebesar 0,04 persen, bawang putih sebesar 0,02 persen. Ketimun, tomat sayur, dan kelapa masing-masing 0,01 persen.
Kurniasih Budi





