Daya Saing Industri Mainan Indonesia Masih Rendah
Selasa, 10 Oktober 2006 | 09:43 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta:Industri mainan nasional semakin tergerus produk impor akibat lemahnya daya saing. Juga akibat serbuan produk mainan ilegal.
Untuk jalan keluar, menurut Direktur Jenderal Industri Logam, Mesin, Tekstil dan Aneka Departemen Perindustrian Anshari Bukhari, pemerintah menganjurkan pengusaha mainan melakuan riset pasar agar bisa memanfaatkan celah yang tidak tergarap produk impor.
"Industri mainan dalam negeri memang belum bisa bersaing dengan Cina secara langsung. Karena itu, industri lokal harus masuk ke segmen-segmen yang belum tergarap," ujar Anshari.
Berdasarkan data Departemen Perindustrian, dari 60 perusahaan mainan lokal yang tercatat pada 1991, saat ini hanya tersisa 15 perusahaan saja akibat kalah bersaing. Jika keadaan ini tidak berubah, diperkirakan semua pabrik mainan di Indonesia bisa gulung tikar.
Menurut dia, letak keunggulan produk mainan impor dari Cina antara lain karena harga jualnya lebih murah 60 persen dibanding produk mainan buatan lokal. Murahnya mainan asal Cina yang dijual di Indonesia karena produk tersebut di negara asalnya seringkali merupakan barang yang tidak laku.
"Konsumen di sini tidak memandang itu, sehingga mainan itu tetap laku dijual disini," kata dia.
Namun, Anshari menambahkan, pemerintah Indonesia tidak bisa menuding murahnya mainan asal Cina itu karena melakukan praktek dumping.
Pemerintah minya produsen mainan mampu menggarap pasar yang tidak diserbu produk Cina. Pemerintah pun secara aktif akan membantu memberi informasi mengenai celah pasar yang amsih terbuka, terutama di luar negeri.
"Koordinasi antardepartemen seperti Departemen Perdaganan dan Departemen Luar Negeri, terus dijalin untuk mendapatkan informasi yang akurat tentang industri dan perdagangan mainan global," katanya.
Fery Firmansyah





