BNI Siap Lakukan Haircut

Kamis, 19 Oktober 2006 | 00:27 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta:PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. tengah menganalis kredit macet senilai Rp 4,7 triliun, mana yang layak mendapat pemotongan utang (haircut) pokok atau tidak.

Menurut Direktur Utama BNI Sigit Pramono, dari total kredit seret (non-performing loan) di BNI sekitar Rp 10,1 triliun, sebesar Rp 5,4 triliun akan diselesaikan melalui restrukturisasi tanpa pemotongan utang.

"Sisanya, sekitar Rp 4,7 triliun ini akan kami analisis lebih dalam sesuai dengan kewenangan yang diberikan kepada kami," kata Sigit.

BNI, dia menambahkan, akan segera menandatangani perjanjian restukturisasi kredit sebesar Rp 1,4 triliun milik satu grup besar.

Berdasarkan catatan Tempo, Raja Garuda Mas milik Sukanto Tanoto merupakan salah satu pengutang besar yang sedang melakukan negosiasi akhir dengan BNI. Utang RGM kepada BNI tercatat mencapai Rp 1,56 triliun.

Dengan Peraturan Pemerintah Nomor 33 Tahun 2006 merupakan revisi Peraturan Pemerintah Nomor 14 Tahun 2005 tentang Tata Cara Penghapusan Piutang Negara/Daerah serta Peraturan Menteri Keuangan Nomor 87/PMK.07/2006 tentang Pengurusan Piutang Perusahaan Negara/Daerah tentang Pengurusan Piutang Perusahaan Negara/Daerah, bank-bank pelat merah bisa melakukan pemotongan utang.

Namun, Sigit menambahkan, tidak semua pengutang akan mendapatkan potongan utang. "Hanya yang benar-benar layak, misalnya karena faktor eksternal seperti kurs atau bencana," ujarnya.

BNI berhasil merestrukturisasi kredit seret 328 pengutang dengan total nilai Rp 3,41 triliun per 16 Oktober 2006. Jumlah kredit seret yang direstrukturisasi BNI hingga 16 Oktober ini meningkat dibanding dengan total restrukturisasi kredit seret per September lalu yang mencapai Rp 3,13 triliun (194 pengutang).

Dari Rp 3,13 triliun restrukturisasi kredit BNI tersebut, 20 debitur terbesar menyumbang sekitar Rp 900 miliar. Enam diantaranya dari sektor korporasi yakni PT Pupuk Iskandar Muda, PT Zeus Citra International, PT Wira Bahari Kencana, PT Gunatex Jaya, PT Bukit Panglong, serta PT Abadi Genteng Jatiwangi. Sedangkan 14 perusahaan lainnya dari sektor menengah.

Sofian/Suryani Ika Sari






Komentar Anda

Kirim