PLN Akan Hapus Tarif Multiguna bagi Industri
Kamis, 26 Oktober 2006 | 02:19 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta:PT PLN (Persero) akan menghapus ketentuan tarif multiguna bagi industri karena sudah mampu mengatasi kendala pasokan listrik dengan beroperasinya pembangkit-pembangkit baru.
Direktur Jenderal Industri Logam Ansari Bukhari mengungkapkan, PLN berjanji akan membahas pencabutan ketentuan tarif listrik itu dalam dua minggu ke depan. Janji itu muncul setelah Menteri Perindustrian Fahmi Idris membahas ketentuan tarif listrik multiguna dengan direksi PLN belum lama ini.
"PLN menyatakan realisasinya dua minggu atau sebulan setelah Lebaran," kata Ansari kepada Tempo di Jakarta.
Tarif multiguna merupakan tarif khusus PLN bagi setiap perusahaan yang akan membuat sambungan listrik baru atau menambah daya. Harga tarif multiguna PLN mencapai US$ 15 sen per kilowatt-jam (kWh), lebih mahal dibanding tarif listrik di negara lain yang mencapai US$ 7-8 sen per kWh.
Fahmi membenarkan bahwa PLN menunjukkan respons positif dan menyatakan akan membahasnya dalam dua minggu ke depan. "Mereka memahami sekali permohonan kami," katanya kepada wartawan di sela-sela silaturahmi Idul Fitri, Selasa lalu.
Dia optimistis PLN akan mencabut ketentuan tarif multiguna bagi industri dalam waktu dekat. Penyebabnya, PLN sudah mampu mengatasi keterbatasan pasokan listrik setelah mengoperasikan pembangkit-pembangkit baru.
Dulu, menurut dia, PLN menerapkan kebijakan tarif multiguna karena pasokan listrik kurang, sementara permintaannya besar. Sekarang pembangkit-pembangkit baru mulai bisa mengatasi minimnya pasokan listrik PLN. "Kebijakan tarif multiguna bisa ditinjau karena sudah tidak cocok," ujarnya.
Dia menjelaskan tarif multiguna menambah permasalahan dunia industri, yang seharusnya mendapat banyak insentif. Akibat tarif itu, kata dia, banyak investasi dan ekspansi usaha yang batal atau tertunda karena mahalnya biaya listrik.
Juru bicara PLN Muljo Adji membenarkan PLN sedang membahas usul pencabutan tarif multiguna. "Pertimbangan-pertimbangannya sedang diuji," katanya.
PLN, menurut dia, memiliki komitmen kuat melayani pelanggan, termasuk tak ingin membebani sektor industri. Namun, dia menegaskan, tarif listrik yang tinggi itu akibat pemakaian bahan bakar minyak masih sangat tinggi. "Sekalipun ada pembangkit baru, pemakaian BBM masih cukup tinggi," ujarnya. "Kondisi keuangan PLN juga harus jadi pertimbangan."
Fery Firmansyah




Komentar Anda :