Bisnis Ritel Belum Prospektif
Rabu, 08 November 2006 | 17:04 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta:Kegiatan industri ritel hingga tahun depan dinilai belum prospektif karena masih lemahnya daya beli konsumen. Bisnis ritel masih dikategorikan berbiaya tinggi dan untung rendah. "Meski berkembang, tapi belum menguntungkan pelaku bisnis," kata Ketua Harian Asosiasi Pemasok Garmen dan Aksesoris Indonesia (APGAI) Surjadi Sasmita, Rabu (8/11).
Dia mengatakan, agar bisa bertahan, pengusaha ritel melakukan perang harga. Akibatnya bisnis ritel menjadi tidak sehat karena keuntungan semakin kecil. Selain itu, kata Surjadi, keuntungan kecil tersebut tidak hanya dialami para pengusaha tapi juga pemasok dan produsen.
Ketua Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia Handaka Sentosa mengatakan, akibat daya beli masyarakat rendah, pengusaha melakukan efisiensi dan menekan ongkos produksi. "Tidak selalu dengan mengorbankan margin, tapi bisa juga dengan optimalisasi tenaga kerja," ujarnya. Dia mencontohkan, satu pegawai yang biasanya ditugaskan bertanggungjawab untuk mengawasi 15 meter persegi, nantinya menjadi 17 meter persegi.
Handaka menampik anggapan sektor ritel tidak prospektif bagi para investor di masa depan. "Dengan penurunan suku bunga yang dilakukan Bank Indonesia, ditambah dengan efisiensi biaya produksi, akan membuat sektor ritel kondusif," katanya. Apalagi, kata dia, sudah banyak investor ritel asing yang masuk ke Indonesia.
Dia yakin pada akhir 2006 peritel akan membukukan omzet lebih tinggi dibandingkan keseluruhan tahun sebelumnya. "Kami tetap optimis penjualan 2006 mencapai 20 persen lebih tinggi dibanding 2005," ujar Handaka. Hal ini dikarenakan hingga September, pengusaha ritel kelas menengah mencatat kenaikan penjualan sekitar 12-17 persen.
Ketua Umum APGAI Poppy Darsono mendesak pemerintah untuk segera mengesahkan peraturan presiden tentang pasar modern. Kebijakan itu nantinya akan akan mengatur pengusaha pasar modern, properti, industri pemasok, dan bisnis lain yang terkait dengan ritel.
RR ARIYANI





