Indonesia Kekurangan 195 Ribu Ton Beras

Selasa, 14 November 2006 | 08:05 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta:Indonesia diperkirakan kekurangan beras hingga 195 ribu ton pada akhir tahun ini. Penyebabnya, ada ketimpangan antara produksi beras dan tingkat konsumsi masyarakat.

Hasil penelitian Pusat Analisis Sosial Ekonomi Kebijakan Pertanian Departemen Pertanian menunjukkan produksi beras 2006 diperkirakan hanya 30,395 juta ton. Adapun konsumsi masyarakat 31,130 juta ton.

"Kondisi perberasan nasional berada dalam situasi rawan," ujar peneliti Pantjar Simatupang.

Hasil penelitian itu, kata dia, berdasarkan simulasi data deret waktu selama 1969-2005. Data yang digunakan, antara lain luas panen dan produktivitas beras serta konsumsi masyarakat. "Produksi beras 2006 naik, tapi tidak sebanding dengan peningkatan penduduk," kata Pantjar.

Pertumbuhan produksi beras saat ini, menurut dia, masih berada di bawah pertumbuhan penduduk yang mencapai 1,3 persen per tahun. Padahal pertumbuhan penduduk itu bakal mendongkrak konsumsi beras masyarakat.

Defisit beras itu diperkirakan akan semakin membesar pada tahun-tahun berikutnya. "Kecuali kalau ada peningkatan kapasitas produksi," kata Pantjar.

Menurut Pantjar, produksi beras nasional diprediksi akan turun mengikuti berkurangnya luas lahan panen. Tahun ini saja, luas panen nasional hanya 11,731 juta hektare dan naik tipis pada 2007 menjadi 11,732 juta hektare. Namun, luas lahan itu akan terus menurun pada 2008-2010 hingga hanya 11,1 juta hektare. Pada saat yang sama, tingkat kesuburan tanah pun menurun.

Saat ini produksi rata-rata nasional gabah kering giling 4,58 ton per hektare. Hasil ini akan menurun pada 2007 menjadi 4,57 ton per hektare. "Dan masih akan terus turun lagi," katanya.

Pengamat ekonomi pertanian Bustanul Arifin berpendapat, pertumbuhan produksi padi nasional seharusnya 4,5-5 persen per tahun. "Kalau di bawah itu, kita dalam masalah," katanya tanpa menjelaskan masalah yang dimaksud.

Pantjar mengatakan, untuk menutup kekurangan produksi beras, pemerintah tak perlu impor beras lagi tahun ini. "Yang impor kemarin 210 ribu ton sudah cukup," katanya.

Namun, kata Pantjar, untuk tahun depan pemerintah harus menaikkan kapasitas produksi dengan memperbaiki infrastruktur pertanian, terutama saluran irigasi, perluasan pengelolaan tanah, dan perbaikan teknologi pertanian.

Ewo Raswa






Komentar Anda :

Disclaimer : Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi Tempo Interaktif. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan
Kirim

Nama:

Kota:

Email:

Judul:

Komentar: