Cadangan Beras Nasional 4 Juta Ton

Kamis, 16 November 2006 | 17:59 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta:Pemerintah menyatakan cadangan beras nasional pada 2006 mencapai 4 juta ton. Juru bicara Departemen Pertanian Suprahtomo mengatakan, angka beras nasional tersebut diperoleh dari penjumlahan surplus 2005 sebanyak 51 ribu ton dengan stok awal 2006 sebanyak 3,83 juta ton dan impor 210 ribu ton oleh Perusahaan Umum Bulog. "Jadi penyediaan beras 2006 cukup aman," ujar Suprahtomo kepada Tempo.

Pernyataan ini sekaligus membantah hasil penelitian Pantjar Simatupang dan M. Maulana dari Pusat Analisis Sosial Ekonomi Kebijakan Departemen Pertanian yang memperkirakan tahun ini Indonesia defisit 195 ribu ton beras (Koran Tempo, 14/11).

Menurut Suprahtomo, angka defisit 195 ribu ton tersebut hanya merupakan kesimpulan dari hasil simulasi data produksi padi 1969-2005. "Itu salah satu instrumen memprediksi produksi beras dalam setiap tahunnya," ujarnya.

Dia mengungkapkan, jumlah produksi beras selalu mengacu kepada data Badan Pusat Statistik (BPS). Angka Ramalan III BPS mencatat, produksi gabah kering giling (GKG) tahun ini sebesar 54,66 juta ton atau naik 513 ribu ton dibandingkan tahun lalu.

Sementara itu, peneliti Pusat Analisis Sosial Ekonomi Kebijakan Pertanian Departemen Pertanian Pantjar Simatupang mengatakan, penelitian yang dilakukannya soal kondisi perberasan nasional hanya bertujuan mengingatkan pemerintah.

Sebelumnya, dalam makalahnya dia menyatakan pada tahun ini Indonesia defisit 195 ribu ton beras. Defisit ini akan bertambah pada tahun mendatang jika tidak ada perbaikan infrastruktur, perluasan sawah, dan inovasi teknologi.

Pantjar mengakui, penelitiannya itu hanya salah satu varian perhitungan produksi padi nasional. "Tapi mudah-mudahan itu bisa mengingatkan pemerintah," katanya ketika dihubungi Tempo, Kamis (16/11).

Menurut dia, pertumbuhan produksi beras yang aman seharusnya sejalan dengan pertumbuhan penduduk sebesar 1,3 persen per tahun. Alasannya, peningkatan penduduk bakal mendongkrak kebutuhan konsumsi masyarakat. "Kalau dua tahun terakhir ini pertumbuhan produksi padi berada di bawah pertumbuhan penduduk," ujarnya

EWO RASWA






Komentar Anda

Kirim