Petrokimia Terancam Gulung Tikar
Senin, 04 Desember 2006 | 08:51 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta:PT Petrokimia Gresik terancam gulung tikar. Pasalnya, sejumlah unit usaha mati total karena tidak adanya aliran gas ke pabrik itu setelah pipa gas di Porong, Sidoarjo, Jawa Timur, meledak beberapa waktu lalu.
Direktur Petrokimia Gresik Arifin Tasrif menjelaskan saat ini kegiatan produksi pabrik amoniak mati total. Sedangkan unit pabrik lainnya yang memproduksi pupuk jenis ZA, SP-36, dan NPK mengalami gangguan.
"Kapasitas produksi kami jadi sangat terbatas," kata Tasrif kepada Tempo. Menurut perhitungannya, volume produksi pupuk urea saat ini berkurang sekitar 1.300 ton per hari. Sedangkan volume produksi amoniak berkurang 1.200 ton per hari.
Tasrif menambahkan, perusahaan juga mengalami kerugian Rp 500 juta per hari karena harus mengkonversi bahan bakar minyak dari gas ke bahan bakar jenis lain untuk pembangkit energinya.
"Kerugian itu besar karena harga bahan bakar, terutama solar, tujuh kali lipat dari harga gas," katanya. Jika Petrokimia harus mengganti bahan bakar gas dengan harga solar yang ditetapkan PT PLN (Persero), biaya produksi urea meningkat lebih dari US$ 400 per ton.
Tasrif berharap pemerintah bisa segera memfasilitasi alternatif pasokan gas melalui mekanisme tukar-menukar (swap) antarperusahaan, seperti PT Perusahaan Gas Negara Tbk., PT PLN, dan PT Pertamina (Persero). Jika semua perusahaan itu bisa mengalihkan 50 juta kaki kubik per hari, Tasrif memperkirakan pabrik urea Petrokimia bisa tertolong.
"Secara prinsip, swap ini sudah diterima masing-masing pihak, tapi baru dijajaki kemungkinannya karena harus dites dulu," kata Tasrif.
Menurut dia, terhenti dan tersendatnya produksi pupuk Petrokimia juga mempengaruhi industri lain yang masih bergantung pada produksi perusahaan. Padahal saat ini perusahaan bertanggung jawab memenuhi pupuk urea bersubsidi di 12 kabupaten, seperti Bojonegoro, Gresik, Jombang, Madiun, Magetan, Ngawi, Nganjuk, Pacitan, dan Ponorogo.
Namun, untuk mengatasi kekurangan pasokan pupuk itu, kata Tasrif, PT Pupuk Sriwidjaja dan PT Pupuk Kalimantan Timur sudah bersedia mengalokasikan sebagian stoknya untuk mencukupi kebutuhan wilayah pemasaran Petrokimia (Jawa Timur dan Jawa Tengah).
Sekretaris Menteri Badan Usaha Milik Negara Said Didu mengatakan pemerintah saat ini telah menetapkan dua agenda pokok untuk mengatasi masalah Petrokimia Gresik, yakni dengan mengalihkan stok dari beberapa pabrik pupuk lain, seperti Pupuk Sriwidjaja, Pupuk Kaltim, dan PT Pupuk Iskandar Muda.
Meskipun demikian, dia mengakui pengalihan itu tidak bisa berlangsung lama. Jika keadaan ini berlanjut hingga 10 bulan ke depan, dia khawatir persoalan Petrokimia juga akan berdampak pada pabrik pupuk yang lain.
"Pasokan mereka tidak akan mampu memenuhi kebutuhan Petrokimia dalam 10 bulan mendatang," kata Said ketika dihubungi pada kesempatan terpisah.
Wakil Presiden Jusuf Kalla ketika bertemu dengan direksi Petrokimia di Surabaya, Sabtu lalu, juga meminta perusahaan itu segera berproduksi paling lambat Januari 2007. Karena itu, Kalla meminta Pertamina segera mempercepat memperbaiki pipa gas agar Petrokimia dan industri lainnya segera mendapat pasokan gas.
Riky Ferdianto/Sutarto





