Bank Masih Hadapi Tantangan Berat 2007
Senin, 04 Desember 2006 | 08:53 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta:Industri perbankan masih menghadapi tantangan berat tahun depan, khususnya bank-bank milik pemerintah, terkait dengan kredit seret.
Ekonom senior PT Bank Negara Indonesia Tbk., Ryan Kiryanto, mengatakan salah satu tantangan berat yang akan dihadapi industri perbankan, khususnya bank milik pemerintah, adalah penurunan tingkat kredit seret atau non-performing loan yang ada di dua bank besar di Indonesia, yakni PT Bank Mandiri Tbk. dan BNI. Hal ini menyebabkan kredit seret perbankan nasional mencapai 8,5 persen.
"Ekspansi kredit dan peningkatan efisiensi untuk memperbaiki pendapatan operasional atau rasio kecukupan modal di bank milik pemerintah juga menjadi tantangan berat tahun depan," kata Ryan.
Situasi politik yang belum kondusif dan ketidakpastian hukum di Indonesia, menurut dia, juga akan menjadi tantangan bagi industri perbankan dalam meningkatkan penyaluran kredit tahun depan. "Hukum yang tidak jelas dan suhu politik yang memanas membuat bankir dan dunia usaha takut," ujarnya.
Pertumbuhan kredit perbankan hingga triwulan ketiga tahun ini masih rendah. Selama periode Januari-September 2006, penyaluran kredit baru Rp 50 triliun, jauh lebih rendah dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu, yang mencapai sekitar Rp 150 triliun.
Akibatnya, Bank Indonesia menurunkan target pertumbuhan kredit menjadi 13 persen dari target semula 18-20 persen. Sedangkan tahun depan bank sentral memperkirakan pertumbuhan kredit meningkat menjadi 15-18 persen.
Menurut Ryan, tantangan lain yang harus dihadapi industri perbankan tahun depan adalah yang terkait dengan kebijakan bank sentral pada program Arsitektur Perbankan Indonesia yang mewajibkan bank-bank memiliki modal minimum Rp 80 miliar pada 2007. "Persyaratan ini akan menjadi tantangan berat bagi bank," katanya.
Seperti diketahui, bank sentral telah menerapkan beberapa kebijakan, seperti pemenuhan ketentuan modal minimum bank Rp 80 miliar pada 2007 dan menjadi Rp 100 miliar pada 2010.
Suryani Ika Sari





