Realisasi Investasi Asing Anjlok Tajam
Rabu, 06 Desember 2006 | 08:28 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta:Realisasi nilai penanaman modal asing dan dalam negeri selama periode Januari hingga November 2006 anjlok tajam dibanding periode yang sama tahun lalu.
Berdasarkan data Badan Koordinasi Penanaman Modal, nilai investasi asing menjadi US$ 4,69 miliar, anjlok 45,9 persen dibanding periode yang sama tahun lalu. Sedangkan nilai investasi lokal hanya mencapai Rp 16,9 triliun, turun 37,1 persen dibanding 2005.
Menurut Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal Mohammad Luthfi, turunnya penanaman modal asing dan dalam negeri itu disebabkan oleh pengaruh kenaikan harga bahan bakar minyak pada Oktober 2005. Kenaikan harga BBM itu mengakibatkan peningkatan ongkos produksi. "Itu membebani calon investor," kata Luthfi.
Krisis ketenagalistrikan atau defisit pasokan listrik yang terjadi di sepuluh wilayah, kata dia, juga ikut mempengaruhi minat investor menanamkan modal di Indonesia. Kesepuluh wilayah itu di antaranya Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, dan Papua. Krisis pasokan gas di Jawa Barat dan Jawa Timur juga semakin menunda ekspansi kegiatan penanaman modal.
Dia mengatakan, beberapa masalah perburuhan dan harmonisasi tarif pajak menjadi ganjalan investor untuk menanamkan modal. Akibatnya, komitmen investasi pada 2004 dan 2005 menurun jika dibandingkan dengan 2003. "Akibatnya, realisasi investasi 2006 juga turun."
Berbagai masalah infrastruktur dan masalah kepastian hukum juga ikut mempengaruhi realisasi investasi. "Jika tidak ada perbaikan segera, tahun depan bisa lebih drop (investasinya) lagi," ujar Luthfi
Dia tetap optimistis penurunan realisasi investasi asing dan lokal tersebut tidak akan terlalu signifikan mempengaruhi pertumbuhan ekonomi.
Dari sisi ekonomi makro, penurunan pertumbuhannya hanya sekitar 0,9 persen. Agar kinerja investasi membaik, dia mendesak kebijakan untuk mendorong investasi segera diselesaikan. Misalnya mempercepat penyelesaian Undang-Undang Penanaman Modal, Undang-Undang Perpajakan dan Kepabeanan, serta perbaikan peraturan ketenagakerjaan yang ramah terhadap penciptaan nilai tambah. "Ini bisa memperbaiki kinerja investasi."
Wakil Ketua Komisi Perdagangan Lili Asdjudiredja justru khawatir, penurunan realisasi investasi asing dan dalam negeri akan sangat mempengaruhi pertumbuhan ekonomi nasional. "Dengan tren penurunan realisasi investasi saat ini, saya memprediksi target pertumbuhan ekonomi 5,8 persen tidak akan tercapai," katanya kepada Tempo.
Penurunan nilai investasi juga, kata dia, akan mengurangi lapangan kerja dan membatasi lapangan kerja yang akan dibuka. Akibatnya, potensi pengangguran terbuka pun semakin besar.
Dia mendesak pemerintah mengurangi ekonomi biaya tinggi dan memperbaiki berbelitnya birokrasi pemerintah di departemen dan lembaga terkait. Dengan langkah itu, diharapkan realisasi investasi bisa meningkat di masa mendatang.
Rr Ariyani






Komentar Anda :