Pemerintah Siap Gelar Operasi Pasar Beras
Selasa, 12 Desember 2006 | 09:05 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta:Pemerintah siap melakukan operasi pasar di tujuh provinsi sampai Februari 2007, menjelang panen raya.
Alasannya, menurut Menteri Perekonomian Boediono, harga beras di tujuh daerah ini selama sepekan terakhir sudah melonjak sebesar 5 persen. "Ini sudah di luar kondisi normal, sehingga harus diwaspadai. Kami akan melakukan operasi pasar secara all out," kata Boediono.
Boediono menjelaskan kenaikan terjadi karena saat ini sudah mulai masuk musim paceklik, sehingga terjadi penurunan pasokan beras.
Namun, dia menambahkan, operasi pasar baru akan dilakukan setelah ada permintaan dari gubernur dan bupati. "Jadi, kalau harga sudah di luar normal, sebaiknya gubernur segera mengajukan (permintaan operasi pasar)," kata Boediono.
Data Departemen Perdagangan mencatat, tujuh provinsi yang sudah mengajukan permohonan operasi pasar adalah Irian Jaya Barat, Kalimantan Timur, Kepulauan Riau, Bengkulu, Sumatera Barat, Papua, dan Maluku Utara. "Maluku baru mengajukan awal bulan ini," kata Menteri Perdagangan Mari Elka Pangestu.
Mari menambahkan, operasi pasar tidak akan menggunakan standar harga tertentu. Harga beras yang akan dijual dalam operasi ini akan ditentukan harga masing-masing daerah.
Kepala Badan Pusat Statistik Rusman Heriawan menambahkan, kenaikan harga beras hingga 5 persen merupakan angka rata-rata yang terjadi di seluruh wilayah yang dipantau BPS. Kenaikan harga terutama terjadi pada beras jenis IR-64, yang paling banyak dikonsumsi dan menjadi acuan inflasi.
Harga beras akhir bulan lalu Rp 5.193 per kilogram, naik menjadi Rp 5.450 pada pekan pertama bulan ini. Kenaikan tertinggi terjadi di Surabaya sebesar 17,53 persen, Banjarmasin 15,86 persen, Kendari 15,54 persen, DKI Jakarta 7,95 persen, dan Palembang 7,58 persen.
"Kami khawatir akan ada efek domino (ke daerah lain) kalau tidak ada antisipasi awal," kata Rusman pada kesempatan yang sama.
Sementara itu, harga bahan pokok di sejumlah daerah--termasuk beras--mulai merangkak naik selama sepekan terakhir. Di Batam, misalnya, harga beras paling murah yang sebelumnya Rp 4.500 per kilogram menjadi Rp 5.000 per kilogram.
Menurut Kepala Dinas Perdagangan dan Industri Kota Batam Ahmad Hijazi, kenaikan harga beras dan gula terjadi karena permainan spekulan tingkat nasional. Pemasok beras menaikkan harga Rp 400 per kilogram dan sampai di Batam dinaikkan lagi karena, jika tidak, pedagang di Batam akan rugi.
Begitu pula harga bahan pokok di Palembang. Pekan lalu harga beras 20 kilogram naik dari Rp 94 ribu menjadi Rp 100 ribu.
Sedangkan berdasarkan pantauan Tempo di Purwakarta, Jawa Barat, akhir pekan lalu di kios beras Jembar, yang merupakan kios beras terbesar di Pasar Rebo, Purwakarta, harga beras IR 64 naik menjadi Rp 4.600 per kilogram atau Rp 3.700 per liter. Sedangkan beras jenis Ciherang naik menjadi Rp 5.000 per kilogram atau Rp 4.100 per liter atau Rp 230 ribu per sak isi 50 kilogram.
Yani Mintarsih, warga Perumahan Griya Asri, kaget dengan terus naiknya harga beras. "Yang paling murah, saya beli di warung harganya sudah mencapai Rp 3.900 per liter," kata Yeni, Jumat lalu. Padahal sepekan sebelumnya dia membeli Rp 3.400-Rp 3.500 per liter.
Agus/Ewo/Anton/Rumbadi/Nanang/Ivansyah/Arif/Imron






Komentar Anda :