"Informasi Cuaca Untuk Pelayaran Tidak Efektif"

Rabu, 03 Januari 2007 | 13:58 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta:
Pengamat maritim dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya Saut Gurning menilai, antisipasi awal dalam bentuk deteksi atau peringatan dini dalam sektor pelayaran di Indonesia, terutama terkait kondisi cuaca, saat ini sangat lemah, dan tidak efektif.

“Pola eksis yang hanya mengandalkan informasi BMG (Badan Meteorologi dan Geofisika) bersifat pasif,” tutur dia melalui surat elektronik yang diterima Tempo, hari ini.

Saut menjelaskan, informasi BMG hanya menyebutkan peringatan dalam
kategori "hati-hati" dan "umum" tanpa ada informasi cuaca yang detail
dan jelas untuk suatu rute pelayaran tertentu. Selain itu, proses memberi informasi pun lambat lantaran informasi harus disampaikan terlebih dahulu kepada pihak administratur pelabuhan sebelum diteruskan kepada perusahaan pelayaran. “Sehingga, infonya tidak real-time)," kata dia.

Kondisi itu, menurut dia, membuat banyak operator pelayaran yang tidak mengindahkan atau bahkan tidak mengetahui yang sebenarnya terjadi.

Dia menambahkan, faktor cuaca buruk sebenarnya sudah menjadi
fenomena umum operasi pelayaran untuk diantisipasi secara awal.

Saut mengimbau, regulasi maritim nasional menerapkan pola
deteksi bahaya maritim yang lebik aktif dengan cara menyediakan informasi
keselamatan maritim (maritime safety information) secara real-time dan langsung ke atas kapal yang sedang beroperasi (en-route). Sistem yang direkomendasikan adalah aplikasi penggunaan sistem komunikasi NAVTEX (pada frekuensi 518 khz) dan enhanced Group calling (EGC) INMARSAT.

Informasi keselamatan pelayaran, Saut melanjutkan, dapat menjadi sebuah
sistem peringatan dini (early-warning system) yang dapat diakses oleh seluruh armada kapal nasional di perairan nasional. Sehingga, tindakan
antisipatif dapat dilakukan kapan saja dan dimana saja bila menemui
potensi bahaya lingkungan laut pada musim apapun setiap tahunnya.

“Sudah menjadi rahasia umum kalau kapal-kapal penumpang khususnya feri Indonesia hanya terpasang instalasi radio yang seadanya akibat rendahnya tingkat kepedulian atas faktor keselamatan pelayaran,” ujarnya.

Dalam kasus tenggelamnya Kapal Senopati Nusantara di perairan
Laut Jawa, seputar Pulau Mandalika,utara Jepara, Jawa Tengah, 29 Desember
lalu, Saut menilai, kondisi cuaca bukan penyebab utama. “Faktor
alam hanya faktor luar yang mempengaruhi atau mendukung terjadinya
kecelakaan,” kata dia.

Menurut Saut, jika kapal telah menjalankan prosedur operasi keselamatan
yang baik, kemungkinan besar sebuah kapal dapat bertahan dalam situasi
cuaca buruk sekalipun. Apalagi, dia menambahkan, wilayah sekitar Pulau
Mandalika yang menjadi lokasi kecelakaan itu sudah umum diketahui oleh
operator kapal sebagai area yang rawan dengan ombak yang tinggi.

Dia memperkirakan, setidaknya ada empat kemungkinan penyebab
terjadinya kecelakaan itu : matinya mesin utama kapal saat berlayar, rusaknya kemudi kapal, tidak bekerjanya pintu-pintu kedap kapal, dan kemungkinan
tidak tertutup rapihnya pintu rampah (ramp-door) kapal.

Keempat faktor itu, menurut dia, berpotensi menimbulkan perubahan titik
berat stabilitas kapal (lifting) yang menjadikan kapal oleng berlebihan akibat gelombang yang besar dan akhirnya tenggelam dalam posisi miring.

HARUN MAHBUB

TOPIK






Komentar Anda

Kirim

Nama:

Kota:

Email:

Judul:

Komentar: