Bank Mulai Lirik Bisnis Biofuel

Rabu, 10 Januari 2007 | 08:44 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta:Program pengembangan bahan bakar nabati mulai mendapat tempat di kalangan perbankan. Sejumlah bank di Tanah Air mulai melirik untuk membiayai bisnis bisnis biofuel.

Salah satu bank terbesar di Indonesia, Bank Mandiri, kemarin menandatangani kerja sama pemberian kredit sebesar US$ 432 juta atau Rp 3,9 triliun untuk mendukung proyek bahan bakar nabati.

Penandatanganan kerja sama dilakukan dengan Sinar Mas Group, PT Incassi Raya, PT Permata Sawit, dan Straia Group.

Penandatanganan kerja sama tersebut disaksikan Menteri Negara Badan Usaha Milik Negara Sugiharto, Menteri Riset dan Teknologi Kusmayanto Kadiman, Menteri Pertanian Anton Apriyantono, Menteri Lingkungan Hidup Rachmat Witoelar, Menteri Perdagangan Mari Elka Pangestu, Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat Aburizal Bakrie, serta Menteri Perekonomian Boediono.

Menurut juru bicara Bank Mandiri, Chistina Damanik, pihaknya mengalokasikan kredit untuk perkebunan hingga turunannya sebesar Rp 22 triliun. "Jumlah itu 36 persen dari total portofolio kredit perkebunan nasional," ujarnya kepada Tempo.

Sinar Mas melalui PT Smart Tbk. (Sinar Mas Agro Resources and Technology) menggandeng Hong Kong Energy Ltd. dan CNOOC untuk mengembangkan proyek bahan bakar nabati senilai US$ 5,5 miliar. Proyek itu mengembangkan biodiesel dengan bahan baku kelapa sawit serta bioetanol dengan bahan baku tebu dan singkong.

Cristina mengatakan, selain kucuran kredit kepada pengusaha besar, Bank Mandiri menganggarkan dana Rp 11,08 triliun untuk petani plasma.

"Sejak ditunjuk sebagai bank pelaksana program kredit pengembangan energi nabati dan revitalisasi perkebunan pada 18 Desember 2006, telah dikucurkan dana sebesar Rp 215 miliar untuk petani plasma di Kalimantan Tengah, Jambi, dan Sulawesi Utara," katanya.

Selain dengan perbankan, kerja sama dilakukan dengan 59 lembaga pemerintah dan swasta. Penandatanganan kerja sama untuk pengembangan bisnis biofuel dari hulu sampai hilir senilai US$ 12,4 miliar.

Menurut Ketua Tim Nasional Pengembangan Bahan Bakar Nabati Alhilal Hamdi, komitmen pengembangan bisnis biofuel tersebut belum termasuk pembiayaan kredit perbankan sebesar Rp 25 triliun. "Kredit tersebut untuk petani plasma dengan mendapatkan subsidi bunga kredit," katanya.

Kerja sama dilakukan dengan 14 investor luar negeri, 23 perusahaan dalam negeri, 15 perusahaan BUMN, gerakan koperasi (Dewan Koperasi Indonesia), koperasi daerah, lembaga swadaya masyarakat, Institut Teknologi Bandung, Institut Pertanian Bogor, badan penelitian pengembangan dari Departemen Pertanian dan Departemen Energi, serta pemerintah daerah.

Namun, analis Danareksa, Yudhi Setiawan, ragu prospek industri biofuel berkembang di Indonesia. Menurut dia, kesiapan industrinya hingga kini belum terlihat dan harga minyak dunia masih belum stabil.

"Biofuel akan memiliki prospek yang bagus kalau harga minyak dunia tinggi, tapi sulit memperkirakan naik-turunnya harga tersebut," ujarnya.

Menurut dia, jumlah produksi yang ditargetkan masih terlalu kecil untuk menguasai pasar. Dari total konsumsi biofuel, khususnya untuk diesel, pada 2007-2010, hanya 10 persen atau 2,41 juta kiloliter. Sedangkan konsumsi biodiesel pada 2011-2015 diperkirakan hanya 15 persen atau 4,52 juta kiloliter.

"Kapasitas untuk menguasai pasar masih terlalu kecil, sehingga pengaruhnya juga tidak akan terlalu besar," katanya.

Yudhi memperkirakan industri biofuel pada 2007 belum akan terealisasi. Indikasinya, kata dia, beberapa perusahaan besar mulai kurang tertarik dengan industri ini. "Jadi, secara jangka panjang, prospek biodiesel masih dipertanyakan," ujarnya.

Dia mengatakan, cepat atau lambat, pasar akan mulai menyadari kondisi yang sebenarnya. Sehingga, dengan semakin jelasnya ketidakpastian prospek ini, secara otomatis harga saham akan terkoreksi.

Sebab, kenaikan harga saham perkebunan hanya dipengaruhi oleh isu-isu naiknya crude palm oil (CPO) atau minyak mentah sawit. "Harga CPO naik karena adanya peningkatan permintaan. Tapi sebenarnya di Malaysia stok CPO sendiri berlebih," ungkapnya.

Wahyudin Fahmi/Nieke Indrietta/Muhamad Fasabeni






Komentar Anda

Kirim

Nama:

Kota:

Email:

Judul:

Komentar: