Jumlah Beras Operasi Pasar Dinaikkan
Rabu, 10 Januari 2007 | 09:10 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta:Perusahaan Umum Bulog akan menaikkan jumlah beras dari rata-rata 1.000 ton menjadi 2.000 ton untuk setiap kali pelaksanaan operasi pasar di seluruh Indonesia.
"Ini sesuai dengan perintah pemerintah," kata Kepala Divisi Penyaluran Bulog Djoni Djunarsa kepada Tempo.
Langkah ini dilakukan menyusul menipisnya pasokan pangan karena adanya larangan pelayaran yang dilansir Departemen Perhubungan. Kondisi ini pun mengakibatkan melejitnya harga bahan kebutuhan pokok dalam sepekan terakhir.
Penambahan beras itu, kata dia, akan dipasok dari divisi regional provinsi masing-masing. "Beras kami sudah ada di sana," tuturnya.
Menteri Perdagangan Mari Elka Pangestu juga telah memerintahkan pemerintah daerah dan Bulog menyalurkan pangan dari daerah yang berlebih ke daerah yang kurang. Harapannya, kenaikan harga pangan tersebut tidak berlanjut.
Djoni menambahkan, Bulog selalu berkoordinasi dengan Departemen Perdagangan dalam menyalurkan beras. Hanya, lembaga yang mengurusi logistik, khususnya beras, ini tidak berkoordinasi langsung dengan Departemen Perhubungan. "Kalau itu, sudah tingkat menteri," ujarnya.
Lebih lanjut dia menjelaskan, beras di gudang Bulog yang tersedot untuk operasi pasar juga akan segera diisi dari gudang lain. Dia pun memastikan pasokan beras antargudang di Bulog tidak terlalu terganggu oleh adanya larangan berlayar. Sebab, pengangkutan menggunakan kapal besar, yang mampu membawa beras hingga 6.000 ton.
Sementara itu, Departemen Perhubungan menegaskan tidak akan mengerahkan armada khusus untuk keperluan transportasi distribusi bahan-bahan pokok. "Serahkan pada mekanisme pasar. Kapasitasnya sudah sangat mencukupi, baik di laut maupun di darat," kata juru bicara Departemen Perhubungan Soesilo Hadi.
Langkah yang dibutuhkan, menurut dia, adalah mengkonsolidasi potensi armada yang ada. Setelah itu, memberikan informasi kepada pengguna mengenai ketersediaan moda transportasi, yang meliputi jadwal dan jumlah armada yang tersedia. "Kalau benar-benar diperlukan, baru kami tambah trayek atau kapasitas angkutan," ujar Soesilo.
Sejauh ini, tutur dia, departemennya belum mendapat permintaan resmi dari Departemen Perdagangan atau Bulog perihal penambahan armada ataupun kapasitas angkut. "Kami siap jika ada permintaan," ujarnya.
Seretnya pasokan beras juga dialami Pasar Induk Beras Cipinang, Jakarta.
Berdasarkan data pemasukan beras asal pasar induk ini pada 1 sampai 7 Januari 2007, setiap harinya beras yang masuk ke Jakarta kurang dari 2.000 ton. Padahal kebutuhan beras Ibu Kota sebesar 2.000 ton per hari.
"Pada Januari ini, pasokan paling tinggi hanya 1.400 ton," tutur Kepala Divisi Regional Perum Bulog DKI Jakarta Anton Yulianto.
Akibatnya, harga beras di sejumlah pasar di Ibu Kota mengalami kenaikan.
Anton menambahkan, stok beras di Pasar Induk Cipinang sebanyak 42 ribu ton dinilai cukup untuk kebutuhan pasar di Jakarta hingga beras impor dari Thailand datang. Menurut dia, operasi pasar yang terus digelar Divisi Regional Bulog DKI Jakarta sejak pertengahan Desember 2006 berhasil meredam harga di pasar meski masih ada selisih Rp 700 per kilogram di atas harga normal Rp 4.000-4.500 per kilogram.
Ewo Raswa/Harun Mahbub/Indra Manenda Rossi





