Saham-saham Bank Berguguran

Rabu, 10 Januari 2007 | 09:20 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta:Harga saham sejumlah bank di Bursa Efek Jakarta turun signifikan setelah Merrill Lynch menurunkan peringkat sektor perbankan nasional.

"Penurunan itu dipengaruhi oleh penurunan peringkat oleh Merrill Lynch," kata analis Evergreen Capital, Edwin Sebayang, seperti dilansir AFX Asia.

Saham bank yang harganya turun signifikan adalah PT Bank Mandiri Tbk. sebesar Rp 175 (6,14 persen) menjadi Rp 2.675. Anjloknya harga saham bank terbesar di Indonesia ini memicu penurunan saham bank unggulan (blue chip) lainnya, seperti PT Bank Danamon Indonesia Tbk., PT Bank Central Asia Tbk. dan PT Bank Rakyat Indonesia Tbk.

Merrill Lynch belum lama ini mengeluarkan laporan yang isinya memotong peringkat bank-bank di Indonesia. Lembaga keuangan global menilai harga saham di Indonesia sudah terlalu tinggi setelah naik tajam selama 2006.

Selama 2006, harga saham (dalam rupiah) perbankan naik rata-rata 45,7 persen. Kenaikan itu sangat dipengaruhi oleh langkah Bank Indonesia menurunkan bunga patokan (BI Rate) sebesar 50 basis point. Sejak Mei hingga akhir Desember 2006, bank sentral telah menurunkan BI Rate hingga 300 basis point, dari 12,5 persen menjadi 9,75 persen.

Analis Recapital Asset Management Satrio Utomo menambahkan, jatuhnya saham perbankan memang dipengaruhi oleh laporan Merrill Lynch. Dalam laporannya itu, Merrill Lynch juga menurunkan peringkat Bank Mandiri akibat masih tinggi kredit seret (NPL). "Jatuhnya saham Bank Mandiri merambat ke saham perbankan lainnya," katanya.

Menurut Satrio, sebelumnya, investor optimistis perbaikan rasio kredit seret Bank Mandiri bisa menyehatkan kinerja bank pemerintah tersebut tahun ini.

Namun, hingga Januari 2007, Bank Mandiri belum juga bisa menyelesaikan kredit seretnya di PT Kiani Kertas. "Kondisi ini membuat Merrill Lynch menurunkan peringkat Bank Mandiri. Itu akhirnya berimbas pada jatuhnya saham bank tersebut di lantai bursa," ujarnya.

Dia mengatakan saham perbankan memang sudah naik signifikan seiring dengan penurunan bunga patokan oleh Bank Indonesia. "Investor pun mengambil keuntungan pada saham perbankan."

Pengamat perbankan Mirza Adityaswara mengatakan saham-saham bank turun karena pelaku pasar khawatir inflasi Januari-Februari 2007 akan tinggi. Naiknya inflasi ini bisa mengakibatkan penurunan bunga patokan melambat.

Pelaku pasar juga mengambil keuntungan (profit taking) karena harga saham bank di Indonesia dalam mata uang dolar sudah naik sekitar 70 persen pada 2006. "Pengaruh gejolak di Thailand juga ada, ditambah kekhawatiran pemerintah tak bisa merealisasi janjinya," kata dia.

Muchtar Wijaya/Padjar Iswara/Anne L. Handayani






Komentar Anda :

Disclaimer : Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi Tempo Interaktif. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan
Kirim

Nama:

Kota:

Email:

Judul:

Komentar: