Produsen Kelapa Sawit Khawatir Kenaikan Pungutan Ekspor
Senin, 29 Januari 2007 | 12:29 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta:
Sejumlah produsen kelapa sawit khawatir pungutan ekspor minyak kelapa sawit (crude palm oil/CPO) akan dinaikkan. Sebab, kenaikan itu bakal menekan harga tandan buah segar (TBS) kelapa sawit.
Direktur PT Mina Mas Susanto mengatakan, setiap kenaikan pungutan ekspor sebesar US$ 1 per ton membuat harga TBS kelapa sawit turun US$ 0,14 per ton. "Ini akan menurunkan pendapatan petani kebun, " katanya, saat rapat dengar pendapat dengan Komisi Pertanian Dewan Perwakilan Rakyat, Jakarta, Senin (29/1).
Menurut dia, kenaikan pungutan ekspor CPO kebanyakan dinikmati oleh industri hilir kelapa sawit. Sedangkan perkebunan yang termasuk industri hulu komoditas ini tidak menikmatinya. Padahal, kata dia, sebagian besar masyarakat berada di perkebunan.
Catatan Tempo menunjukkan, pungutan ekspor CPO saat ini dipatok US$ 5,2 per ton. Angka ini naik dari sebelumnya US$ 4,8 per ton. Pungutan ini kemungkinan masih akan mengalami peningkatan.
Menurut Susanto, kenaikan pungutan ekspor CPO akan menguntungkan Malaysia sebagai produsen terbesar lainnya. Sebab, ekspor CPO dari Indonesia menjadi berkurang.
Direktur PT Asian Agri Eddy Lukas menambahkan, kenaikan pungutan ekspor CPO akan membuat anjloknya harga komoditas itu di dalam negeri. "Ini merangsang penyelundupan ke luar negeri, " ujarnya.
Dia menjelaskan, anjloknya pendapatan petani akan menyebabkan menurunnya minat mereka dalam berkebun. "Jadi target Indonesia menjadi produsen terbesar kelapa sawit sulit terlaksana."
EWO RASWA




Komentar Anda :