Pengamat Pesimistis Soal Kartel Gas

Senin, 12 Februari 2007 | 08:52 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta:Pembentukan organisasi negara-negara penghasil gas dinilai sulit diwujudkan. Alasannya, menurut pengamat minyak dan gas Ramses Octavianus Hutapea, karakter gas di Indonesia berbeda dengan negara produsen gas lainnya.

"Kalau Indonesia ikut asosiasi seperti itu, nanti akan sulit diterapkan," kata Ramses kepada Tempo.

Ia menjelaskan, jika organisasi itu terbentuk dan diputuskan kebijakan pengendalian harga antarnegara anggota, justru hal itu akan menyulitkan Indonesia.

Ramses menerangkan, di Indonesia gas tak keluar bersama minyak sehingga investasi, biaya produksi, dan harga akan berbeda dengan negara produsen gas lainnya, seperti Rusia dan Arab Saudi.

Di kedua negara itu, gas keluar dari bumi bersama minyak mentah, sehingga biaya lebih kecil dibanding Indonesia. Artinya, harga jual gas lebih murah ketimbang Indonesia. Perbedaan karakter inilah yang membuat Indonesia mempunyai formula penetapan harga gas yang berbeda.

Sebelumnya, Iran dan Rusia mengusulkan membentuk organisasi kartel untuk produsen gas atau semacam OPEC (Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak) gas. Tapi Menteri Energi Aljazair Chakib Khelil mengatakan pembentukan kartel gas sangat sulit terwujud. Ia beralasan, gas dijual untuk jangka panjang. Apalagi pasar minyak dan gas sangat berbeda. "Rencana itu (pembentukan kartel gas) sulit diwujudkan," kata Khelil seperti dikutip AFP.

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Purnomo Yusgiantoro menyatakan belum bisa berkomentar mengenai kartel gas. "Itu usul siapa? Seperti apa usulnya? Saya belum dengar usulnya. Saya dengarnya dari media," ucap Purnomo ketika dihubungi pada Jumat lalu.

Menurut dia, departemennya mesti mengetahui terlebih dulu bentuk, maksud, dan tujuan kartel gas tadi. Toh, produsen gas Indonesia sudah rutin mengadakan pertemuan informal. "Tapi sifatnya tak binding, tak mengikat. Hanya pertukaran informasi," ujarnya.

Namun, Ketua Asosiasi Perusahaan Minyak dan Gas Nasional Effendi Siradjuddin berpendapat kartel gas akan mendongkrak harga gas negara-negara anggota. Ia mengandaikan kartel gas disamakan dengan OPEC yang terbukti berhasil mengontrol harga minyak.

Apalagi Indonesia merupakan produsen LNG terbesar selain Malaysia, Qatar, dan Australia. "Harga LNG Indonesia bisa lebih baik sehingga pendapatan negara lebih besar," katanya.

Nieke Indrietta






Komentar Anda

Kirim