Menteri Perindustrian: Tidak Benar Ekspor CPO Dibatasi
Kamis, 15 Februari 2007 | 13:41 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta:
Pemerintah tetap mendorong ekspor minyak kelapa sawit (Crude Palm Oil) kendati dalam waktu yang sama hendak mengembangkan indutri biofuel.
"Sekarang sudah heboh, isunya melarang ekspor. Itu sudah pasti salah. Dikenakan pungutan ekspor, juga tidak benar. Tidak ada kuota juga," ujar Menteri Perindustrian Fahmi Idris di Jakarta, hari ini, seusai membuka rapat kerja Departemen Perindustrian.
Yang benar, menurut dia, adalah bagaimana CPO yang merupakan kekuatan Indonesia tetap melakukan ekspornya. "Tapi juga dapat mengembangkan industri dalam negeri. Itu yang kami dorong," katanya.
Ekspor CPO di saat harga tinggi, menurut dia, akan sangat baik bagi pendapatan negara. Namun, industri hilir bisa tetap memperoleh pasokan.
Aturan pemerintah tentang CPO yang sedang digodok saat ini, diharapkan tidak akan menimbulkan kelangkaan di pasar dalam negeri. "Jangan sampai terlihat orang antri minyak kelapa. Ini berarti harus ada jaminan pasokan," kata Fahmi.
Kebijakan pemerintah nantinya, kata dia, sifatnya akan bersifat perimbangan saja. "Ekspor terus dilakukan. Tentu ada fluktuasi, manakala harga tinggi, tentu ekspornya naik. Kebutuhan dalam negeri juga begitu. Saat mendekati hari raya dan tahun baru kebutuhan meningkat," paparnya.
RR ARIYANI





