Pengamat : Penambahan Instrumen Moneter Berbahaya
Senin, 26 Februari 2007 | 00:24 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta:Ekonom Tim Indonesia Bangkit Iman Sugema menilai rencana Bank Indonesia menambah instrumen moneter baru adalah kebijakan yang berbahaya. Sebab saat ini, kata dia, Bank Indonesia sudah memiliki instrumen Sertifikat Bank Indonesia (SBI) satu bulanan dan tiga bulanan.
"Itu kebijakan ngawur dan berbahaya," kata Iman usai menjadi pembicara dalam diskusi Menanti Perubahan Kebijakan Ekonomi yang diadakan oleh Tim Indonesia Bangkit, di Jakarta kemarin. Dia khawatir dana yang ditaruh di SBI akan terus menggelembung, sehingga bank sentral akan kesulitan menangani dana tersebut.
Sebelumnya Bank Indonesia berencana menerbitkan instrumen moneter SBI dengan jangka waktu lebih panjang yaitu 6 dan 9 bulan. Selain itu bank sentral juga akan menerbitkan suku bunga harian antarbank (interbank overnight rate). Di negara lain, suku bunga harian antarbank itu sudah diterapkan dan berhasil.
Saat ini, kata dia, dana perbankan yang disimpan dalam SBI sudah mencapai Rp 230 triliun. Dana sebesar itu, tidak bisa digunakan untuk membiayai aktivitas ekonomi produktif. Bila kebijakan bank sentral direalisasikan, dia khawatir sektor riil akan semakin terpuruk karena jauh dari akses permodalan.
Tak hanya bank nasional, menurut Iman bank-bank asing juga akan berama-ramai memborong SBI. Instrumen harian interbank overnight, bakal menjadi favorit bank asing. Mereka mendulang untung besar dari selisih bunga.
Deputi Gubernur Bank Indonesia Aslim Tadjudin menyatakan perluasan instrumen moneter masih sebatas wacana. "Belum ada keputusannya, kami masih mencari alternatif yang tepat," kata Aslim.
Bank Indonesia, kata dia, saat ini masih menunggu diterbitkannya Surat Perbendaharaan Negara (SPN) oleh pemerintah. Jadi, bank sentral masih mempertimbangkan tentang perlu atau tidaknya penerbitan instrumen moneter. Dia juga menyatakan, bank sentral belum memutuskan instrumen yang akan dipakai. âKami masih mengkajinya, semua itu masih wacana,â katanya.
Akhir pekan lalu, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati meminta Bank Indonesia berkoordinasi dan mengkomunikasikan tentang rencana bank sentral memperluas kebijakan moneternya. Sebab kebijakan fiskal dan moneter akan saling mempengaruhi.
AGUS SUPRIYANTO I SURYANI IKA SARI





