Belum Diketahui Penyebab Insiden AdamAir

Senin, 26 Februari 2007 | 02:10 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta:
Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) belum bisa memastikan penyebab kecelakaan pesawat AdamAir KI 172 di Bandara Juanda, Surabaya, Rabu 21 Februari pekan lalu.

Ketua Tim Investigasi KNKT untuk kasus ini, Erfata Lananggalih mengatakan butuh waktu tiga minggu lagi untuk membaca kotak hitam (black box) yang merekam seluruh data dan komunikasi pesawat. Dari kotak itu baru akan diketahui pemicu insiden terjadi.

"Data teknis memang cukup, tapi kami harus bacakan kotak hitam dulu di Taipei, dua sampai tiga minggu," tutur dia saat dihubungi Tempo di Jakarta, kemarin.

Investigasi Komite, menurut dia, baru sebatas pengumpulan data, seperti keterangan saksi mata, penumpang, catatan kondisi cuaca dari Badan Meteorologi dan Geofisika, dan kondisi pesawat Boeing 737-300 itu. "Ini belum cukup untuk menyimpulkan," tutur Erfata.

Dia hanya memastikan bahwa dampak yang dialami cukup parah yakni bagian tengah dan bawah badan pesawat melengkung serta ada beberapa rangka yang patah. "Seperti jatuh, kalau lihat patahannya," ujar dia.

Menurut dia, kerusakan itu menunjukkan, pesawat mendapat tekanan di luar kapasitasnya.

Anggota investigator Komite lainnya, Soerjanto Tjahyono, secara terpisah mengatakan, pihaknya tidak serta merta membenarkan bahwa kejadian pesawat Adam Air mendarat dengan keras (hard landing) itu karena terjebak perubahan angin yang sangat cepat (wind share). "Guncangan bisa juga karena manuver pesawat," kata dia.

Menurut dia, kemungkinan itu baru bisa dipastikan setelah pembacaan kotak hitam. "Kasus ini tak mungkin tanpa bantuan kotak hitam, sebab tak ada wind share detector di bandara untuk membuktikan," jelasnya.

Direktur Keselamatan Adam Air Hartono menjelaskan bahwa kecelakaan itu lantaran pilot terjebak kondisi cuaca. Menurut dia, berdasar laporan dari pilot bersangkutan, Captain Dita Murtiadi, terjadi tekanan angin dari atas (down draft) yang dirasakan sesaat pesawat hendak mendarat. "Kejadiannya saat pesawat pada ketinggian sekitar 30 kaki," tuturnya.

Akibatnya, dia melanjutkan, pesawat mendarat dengan keras. Pilot pun tidak dapat berbuat banyak menghadapi wind share pada posisi siap mendarat itu. "Sebab, tidak terdeteksi radar," ujar Hartono.

Harun Mahbub

TOPIK






Komentar Anda

Kirim

Nama:

Kota:

Email:

Judul:

Komentar: