Pasar Mulai Alihkan Dana ke Pasar Uang
Jum'at, 02 Maret 2007 | 18:10 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta:Pelaku pasar masih mencemaskan regulasi Cina yang akan memperketat pasar saham. Investor kini mulai mengalihkan dana dari pasar saham ke pasar uang dengan memburu dolar Amerika Serikat. Akibatnya, tren pergerakan rupiah cenderung melemah dan beberapa kali dicoba menembus Rp 9.200 per dolar.
Pada transaksi hari ini , mata uang lokal ditutup melemah 15 poin ke level Rp 9.165 per dolar setelah pada sesi pagi sempat anjlok ke 9.183 per dolar. Bahkan pada saat terjadi guncangan di bursa Cina yang berimbas ke bursa saham dunia, rupiah sempat terkapar di level 9.195 per dolar merupakan level terendah sejak 13 Oktober 2006.
Sedangkan, indeks harga saham gabungan di Bursa Efek Jakarta kemarin ditutup hanya naik tipis 0,53 poin (0,03 persen) menjadi 1.760,02 setelah pada sesi pagi sempat anjlok di level 1.752,048. Pada transaksi 28 Februari indeks saham sempat anjlok di bawah 1.700, tepatnya di level 1.662,934 terendah sejak 12 Januari 2007.
Dealer valas PT Bank Century Tbk Frans Darwin Sinurat membenarkan adanya sinyal pengalihan dana dari pasar saham ke pasar ini. Ini, tutur dia, tecermin volume transaksi di pasar uang spot antarbank yang meningkat dari rata-rata US$ 100-200 juta menjadi US$ 300-400 juta. “Aliran dana keluar akan semakin besar bila bursa Cina kembali anjlok dan menyeret bursa saham Jakarta,” katanya.
Untungnya, Darwin melanjutkan fluktuasi rupiah dapat diredam. Sehingga penurunan rupiah mampu dibendung oleh Bank Indonesia dengan melakukan intervensi ke pasar. “Saya yakin dengan cadangan devisa yang besar saat ini US$ 45,69 miliar, bank sentral akan mampu menahan rupiah tidak melorot lebih dalam,” katanya.
Sementara itu, pengamat pasar modal dari PT Yulie Sekuritas Hendra Bujang juga memberikan pendapat yang sama. “Sentimen negatif global yakni regulasi pemerintahan Cina dan geopolitik Iran yang kian memanas akan membayangi kinerja bursa beberapa minggu ke depan,” katanya.
Menurut Hendra, tahun lalu indeks saham Jakarta tercatat memiliki kinerja terbaik kedua setelah Cina dengan kenaikan sebesar 55,30 persen dibawah indeks Shanghai yang naik 130,43 persen. “Bila bursa Cina kembali rontok, yang terkena imbas lebih dalam tentunya indeks saham Jakarta. Untuk itu, investor harus mewaspadainya,” tegas dia.
Hendra menyarankan agar investor mencermati pergerakan rupiah yang titik keseimbangannya sudah bergeser dari kisaran Rp 9.050-Rp 9.100 per dolar menjadi Rp 9.150-Rp 9.200 per dolar. “Bila level Rp 9.200 tembus, kemungkinan besar kepanikan beli dolar akan terjadi dan membuat rupiah bisa menuju Rp 9.500 per dolar,” katanya.
MUCHTAR WIJAYA/PDAT
Topik :




Komentar Anda :