Saham Sektor Semen Bakal Terus Perkasa
Senin, 05 Maret 2007 | 02:37 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta:
Pergerakan saham sektor semen di lantai Bursa Efek Jakarta diperkirakan terus perkasa dalam sepekan ke depan melanjutkan prestasi yang dicetak sebelumnya. Sejak awal Februari hingga akhir pekan lalu, saham sektor semen secara rata-rata membukukan kenaikan 2,03 persen di tengah marak terjadinya koreksi harga saham sektor lain.
Dalam periode itu, kenaikan tertinggi dipegang saham Semen Gresik sebesar 4,21 persen dari Rp 38 ribu menjadi Rp 39.600 per saham. Kedua, saham Indocement naik 1,87 persen dari Rp 5.350 menjadi Rp 5.450 per saham. Sedangkan saham Semen Cibinong (Holcim) stagnan di level Rp 650 per lembar.
Analis sektor semen dari BNI Securities, Made Satyaguna, mengatakan prospek kinerja saham sektor semen tahun ini masih bagus. Apalagi jika mengingat konsumsi semen nasional tahun ini diperkirakan meningkat 11 persen menjadi 34-35 juta ton.
"Pada Januari lalu, penjualan semen nasional naik 17,5 persen menjadi 2,6 juta ton, yang merupakan rekor tertinggi penjualan bulanan dalam lima tahun terakhir," ujarnya kepada Tempo.
Made melanjutkan permintaan semen akan terus naik bila industri properti terus tumbuh seiring dengan penurunan bunga kredit pemilikan rumah di bawah 10 persen serta pendirian gedung apartemen dan bisnis yang kian marak.
Dilihat dari kapasitas produksinya, dia menilai volume produksi semen nasional 2006 mencapai sekitar 46 juta ton, yang berarti berkurang 1 juta ton akibat pabrik semen Andalas di Nanggroe Aceh Darussalam porak-poranda diterjang tsunami. Dengan kondisi ini, volume produksi diperkirakan naik mencapai 47,7 juta ton seiring dengan permintaan semen yang terus meningkat. "Artinya ada kemungkinan harga jual semen bakal naik 2-4 persen tahun ini. Itu pun atas pertimbangan biaya produksi, penyimpanan, dan distribusi yang sudah terbatas," ujar Made.
Berkaitan dengan harga saham, Made mentargetkan proyeksi harga saham Indocement 2007 bisa mencapai Rp 6.900 per saham dengan P/E (harga dibanding laba bersih per saham) sekitar 16,9 kali. Begitu dengan saham Semen Cibinong (Holcim) sekitar Rp 710 dengan PER sekitar 28 kali dan Semen Gresik sebesar Rp 44 ribu per saham dengan PER sekitar 14 kali.
Kendati begitu, Made memberikan warning bagi investor yang berminat mengoleksi saham sektor semen. "Aksi beli harus menunggu di harga rendah mengingat saat ini harga saham sektoral tersebut sudah tinggi," ujarnya.
Adapun pengamat pasar modal dari PT Yulie Sekurindo, Hendra Bujang, menilai, dari segi fundamental, saham Indocement dan Semen Gresik masih bagus. Namun, dari segi likuiditas justru saham Holcim lebih menarik. "Saat ini sebaiknya investor lebih berfokus pada saham pertambangan dan perkebunan yang memiliki potensi kenaikan lebih besar ketimbang saham sektoral," ujar dia.
l MUCHTAR WIJAYA | PDAT
Topik :




Komentar Anda :